Integrasi Isu-Isu Nasional Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama islam merupakan pendidikan yang elegan karena dapat diselenggarakan di berbagai lingkup lembaga lembaga pendidikan baik pendidikan informal, non formal, maupun formal. Ketiga lembaga diatas harus saling bekerjasama dalam pembentukan kepribadian peserta didik. Jadi tugas pendidikan agama islam bukan hanya menjadi beban sekolah tetapi juga keluarga, masyarakat, dan Negara.

Pendidikan agama islam seharusnya dimulai sejak ini, yaitu ketika anak berada di lingkungan keluarga. Lingkungan inilah yang disebut lembaga pendidikan informal. Pendidikan agama penting ditanamkan sejak dini. Penanaman nilai-nilai agama hendaknya tetap disesuaikan dengan kodrat anak dimana usia anak adalah waktunya untuk bermain dan tidak dipaksa-paksa (KR, Senin, 25-6-2007:3).

Haryadi Suyuti selaku wali kota Yogyakarta saat membuka Festival Anak Soleh Indonesia (FASI) VII mengatakan bahwa “menanamkan kesholehan tidak harus dilakukan dengan membebani anak. Memberikan pendidikan agama kepada anak merupakan kewajiban setiap orang tua. Setiap anak mempunyai potensi yang berbeda-beda tetapi potensi ini tidak akan berkembang optimal tanpa bimbingan orang tua dan lingkungan. Maka sudah seharusnya orang tua meluangkan waktu untuk belajar dan bermain dengan anak sembari menanamkan hal-hal yang positif (KR, Senin, 25-6-2007:3).

Pendidikan non formal pendidikan agama islam dapat ditempuh di masjid, TPA, dan madrasah diniyah sedangkan pendidikan formal selalu berbentuk sekolah regular. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena sebagian kehidupan anak dihabiskan di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, agama harus mendapat perhatian penuh dari guru agama di sekolah agar anak didiknya berkembang sesuai dengan garis-garis agama yang dianutnya.

Madrasah Aliyah Negeri I Yogyakarta merupakan salah satu sekolah menengah tingkat atas yang mengajarkan pendidikan agama islam. Terlebih lagi mengenai akhlaq. Akhlaq menjadi titik berat tujuan pendidikan agama islam yang harus dipenuhi oleh MAN Yogyakarta I, ungkap Drs. Haerul Badri selaku wakil kepala bagian kesiswaan sekaligus guru tetap aqidah akhlaq. Sejauh ini Madrasah Aliyah Negeri I Yogyakarta sudah melakukan yang terbaik bagi peserta didiknya. Terlebih lagi dalam pendidikan agama islam.

Pendidikan agama islam di MAN I Yogyakarta tidak selalu membahas mengenai pendidikan agama islam tetapi juga sering megaitkan masalah pendidikan dengan isu-isu nasional yang sering muncul akhir-akhir ini. Seringkali pembelajaran pendidikan agama islam di MAN I Yogyakarta dikaitkan dengan masalah teroisme, penyalahgunaan narkoba, korupsi, dan pemeliharaan lingkungan hidup. Guru agama seringkali memberikan analogi dalam berbagai masalah. Misalnya masalah narkoba yang dianalogikan dengan khomr (minuman keras) dimana sama-sama memabukkan sehingga narkoba dihukumi haram. Contoh lain misalnya korupsi Al Amin Nasution yang dianalogikan dengan mencuri dimana mencuri hukumnya haram maka korupsi yang identik dengan penggelapan dana dianggap sebagai pencurian dan haram hukumnya.

Ustadz Fadhil Afif Lc, MA selaku guru qur’an hadist mengatakan bahwa sudah selayaknya pendidikan agama islam mengaitkan masalah-masalah yang ada di dalamnya dengan isu-isu nasional yang terjadi sekarang ini supaya mempermudah peserta didik dalam memahaminya. Selain itu dia juga mengatakan bahwa banyak sekali guru agama yang tidak memahami hal ini. Mereka cenderung konservatif, normative, dan dogmatis tanpa memberikan pengembangan terhadap masalah-masalah yang relevan. Hal inilah yang menjadi bentuk keprihatinan Ustadz Fadhil Afif Lc., MA sehingga dia berharap ke depannya semua akan berjalan dengan baik dan sesuai dengan tuntutan era global dengan catatan tetap menjadikan akhlaq sebagai dasar pertama yang harus diajarkan dalam pendidikan agama islam.

Seirama dengan Ustadz Fadhil, Menteri agama Maftuh Basyuni menekankan pentingnya pembangunan moral bangsa. Semaju apapun perencanaan pembangunan tanpa diimbangi moral yang kuat maka akan sia-sia belaka. Betapapun hebatnya ekonomi kalau akhlaknya bejat maka tidak akan berhasil membangun bangsa. Banyak fakta sejarah membuktikan, suatu bangsa akan hancur jika tidak mengindahkan akhlaq. Karena itu Perbaikilah akhlaq bangsa seperti yang dicontohkan oleh rasulallah saat membangun Madinah kemudian menaklukkan Makkah. Hanya butuh waktu singkat untuk berkembang ke arah yang lebih baik jika akhlaq pengikutnya sudah diluruskan. Itulah sebabnya bidang pendidikan yang menjadi program Departemen Agama tahun 2007, akan menitik beratkan pada pendidikan akhlaq. Hal ini dicanangkan agar manusia Indonesia berperilaku sesuai dengan tuntunan dan ajaran agama masing-masing tanpa ada intervensi dari pihak manapun (Republika, senin, 28 mei 2007:5).

Kepala Negara mengatakan bahwa tantangan terberat dari bangsa ini adalah menghadapi globalisasi sebagai dampak langsung dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi. ”Sekarang ini kita merasakan bahwa makin lama, gelombang globalisasi semakin kuat, maka seharusnya masyarakat Indonesia yang kita cita-citakan adalah masyarakat yang berhasil dalam mengahadapi tantangan globalisaisi tersebut. Kunci utama untuk memeperbaiki manusia adalah akhlak yang diperoleh dari pendidikan. Keadaan jahiliyah yang dikenal dimasa lampau adalah umat yang bodoh, hina, miskin, terpecah belah, dan jauh dari akhlaq. Keadaan ini sangat mungkin terjadi di era sekarang ini khususnya bagi bangsa yang tidak memiliki akhlaq dan daya saing. Pendidikan islam adalah bentuk pendidikan yang holistic dan akumulatif. Individu dan masyarakat muslim yang senantiasa megikuti pendidikan islam maka dia akan selalu dibimbing oleh nilai-nilai islami. Dia akan terbebas dari segala pengaruh negative karena dia telah mengikatkan dirinya pada Allah (Republika, senin 28 Mei 2007: 5).

Salahudin wahid megatakan bahwa korupsi yang terjadi di negara ini, penyalahgunaan kekuasaan, dan pungli adalah penyebab ekonomi yang telah melemahkan daya saing kita. Konsep pembangunan islami tentu akan menganggap bahwa perang melawan korupsi adalah ibadah utama bagi partai politik. Konsep ekonomi islami pasti mencita-citakan keadilan social dan kesejahteraan umum yang merata, lahir dan batin. Itu bisa dicapai dengan system ekonomi pasar social terbuka (Republika, rabu, 27 Juni 2007:4)

Isu-isu pendidikan agama yang tersebar di surat kabar diatas, menandakan bahwa betapa pentingnya pendidikan agama untuk membangun bangsa yang lebih baik. Masalahnya adalah pengajaran agama selama ini berjalan dengan dogmatis, normatif dan monoton sehingga pelajaran agama tidak konteks dengan isu-isu nasioanal yang terjadi akhir-akhir ini. Hal ini terjadi karena guru agama cenderung konservatif, jenis kurikulum yang dipakai adalah separated subject kurikulum dan strategi pengajaranya masih konvensional. Oleh karena itulah, pembelajaran agama yang ada perlu dievaluasi dan dikembangkan. Untuk keperluan pemetaan kondisi pembelajaran agama itulah maka penelitian ini menarik untuk dilakukan.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s