Membongkar Tradisionalisme Pendidikan Pesantren

Pesantren merupakan salah satu tempat favorit bagi masyarakat pedesaan untuk memperoleh pendidikan. Terbukti dengan banyaknya pesantren yang memiliki santri dengan jumlah ribuan. Sebut saja pesantren lirboyo, pesantren asem bagus, pesantren langitan dan lain sebagainya. Pesantren-pesantren tersebut merupakan tempat yang paling berjasa untuk proses pendidikan agama. Memang peran pesantren tidak bisa dinafikan dalam pembangunan citra bangsa tetapi terdapat beberapa hal yang perlu dikaji kembali untuk meningkatkan kualitas pesantren yang ada di indonesia. Terlebih untuk pesantren salaf yang memegang teguh pemikiran kontemplatif.

Kata kontemplatif memang sulit dipisahkan dari pesantren salaf. Mengingat identitas dan ciri khas yang sangat mengakar di kalanagan pesantren. Meskipun demikian, tidak berarti tradisi tersebut todak memerlukan pembenahan. Paradigma pesantren selama ini cenderung apriori dengan budaya barat dan pemikiran barat. Padahal tidak semua pemikiran barat itu tidak baik. Oleh karena itu, perlu adanya filterisasi keilmuan dan pemilahan secara teliti terhadap westernisasi yang ada di Indonesia. Langkah tersebut mampu memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan pesantren salaf. Misalkan, santri pesantren salaf menjadi melek teknologi, paham dengan pemikiran-pemikiran barat, sehingga dapat memkomparasikan dengan pemikiran-pemikiran tokoh islam.

Pesantren salaf cenderung terkungkung dengan budaya. Dalih yang sering digulirkan adalah melesatarikan budaya leluhur. Padahal seharusnya diingat bahwa tidak semua budaya leluhur harus dipertahankan. Ada beberapa budaya yang memang harus dipertahankan, diperbaiki atau bahkan dihilangkan. Salah satu budaya pesantren yang harus diperbaiki adalah budaya dimana santri tidak boleh mengkritik kyai karena dianggap su’ul adzab. Idealnya budaya ini tidak dipertahankan. Kritik dan pertanyaan santri kepada sang kyai akan memberikan feed back dalam pembelajaran sehingga santri menjadi paham dan mengerti apa yang dimaksud oleh sang kyai. Kebanyakan santri salaf masa kini cenderung duduk manis dan berdiam diri tanpa berani bertanya dan mengkritik kyai. Masyarakat yang tinggal di kalangan pesantren salaf masih meyakini bahwa kepatuhan terhadap semua yang disampaikan oleh kyai akan memeberikan berkah tersendiri kepada sang santri.

Disamping kelemahan dalam sistem pembelajaran, pesantren salaf juga memiliki keunggulan dalam hal lain. Misalkan, pendidikan pesantren salaf cenderung murah dan dijangkau oleh masyarakat kelas bawah sehingga memberikan kesempatan masyarakat bawah untuk mengenyam pendidikan. Selain itu, Pesantren salaf sangat diakui oleh dunia dalam hal mendidik santri di bidang penguasaan bahasa asing secara kitaby. Seringkali lomba musabaqoh qiriatul kutub yang dimenangkan oleh pesantren salaf. Akan tetapi, di sisi lain mereka juga memiliki kelemahan yaitu dalam penguasaan bahasa asing secara safahy. Hal ini dikarenakan penguasaan bahasa asing secara safahy jarang sekali dipraktekkan di pesantren salaf. Idealnya keduanya dapat berjalan secara beriringan sehingga santri menjadi santri yang lengkap. Mengingat banyaknya sumber ilmu pengetahuan islam ataupun barat yang menggunakan bahasa asing. Tradisi yang baik mari dipertahankan dan tradisi yang kurang baik mari dibenahi secara bersama-sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s