As Sab’ah al-Muallaqoh

Apa yang saudara ketahui tentang “As-Sab’ah al-Muallaqah” (jawablah sesuai dengan pembahasan tentang interaksi islam-arab).

Jika berdiskusi mengenai kesusastraan Islam, Sastra Jahiliyah hampir tak pernah luput dari pembicaraan. Berdasarkan studi komparatif antara Sastra Arab pada periode Jahiliyah dan periode-periode setelah munculnya islam akan dapat ditarik kesimpulan mengenai peran islam yang begitu besar dalam perubahan sosio-kultural bangsa arab. Kita akan menyaksikan bagaimana sebuah bangsa yang sekian lama terjerembab dalam paganisme dan dekadensi moral yang demikian parah dapat diselamatkan oleh Islam menuju kehidupan yang penuh petunjuk dan kemuliaan.

Karya sastra pada periode jahiliyah menggambarkan keadaan hidup masyarakat dikala itu, dimana mereka sangat fanatik dengan kabilah atau suku mereka, sehingga syair-syair yang muncul tidak jauh dari pembanggaan terhadap kabilah masing-masing. Begitu juga dengan khutbah yang kebanyakan berfungsi sebagai pembangkit semangat berperang membela kabilahnya, namun demikian karya-karya sastra pada periode Jahiliyah juga tidak luput dari nilai-nilai positif yang dipertahankan oleh Islam seperti hikmah dan semangat juang. Hampir seluruh syair-syair dan khutbah pada masa jahiliyah diriwayatkan dari mulut ke mulut kecuali yang termasuk kedalam As Sab’ah Al-Mu’allaqot, hal ini disebabkan masyarakat jahiliyah sangat tidak terbiasa dengan budaya tulis menulis, pada umumnya syair-syair jahiliyah dimulai dengan mengenang puing-puing masa lalu yang telah hancur, berbicara tentang hewan-hewan yang mereka miliki dan menggambarkan keadaan alam tempat mereka tinggal. Beberapa kosa kata yang terdapat dalam karya-karya sastra jahiliyah sulit dipahami karena sudah jarang dipakai dalam bahasa arab saat ini.

Dalam kehidupan masyarakat jahiliyah syair memiliki kedudukan yang penting dan pengaruh yang kuat sehingga masing-masing kabilah saling berbangga dengan kemunculan seorang penyair handal dari kalangan mereka, mereka pun kerap kali mengadakan acara khusus untuk menyaksikan dan menikmati syair-syair tersebut. Adapun Jenis-jenis syair pada masa jahiliyah adalah Al-Madh atau pujian, Al-Hija’ atau cercaan, Al-Fakhr atau membangga., Al-Hamaasah atau semangat yakni untuk membangkitkan semangat ketika ada suatu peristiwa semacam perang atau membangun sesuatu, Al-Ghozal atau ungkapan cinta bagi sang kekasih, Al-I’tidzar atau permohonan maaf, Ar-Ritsa’ atau belasungkawa, Al-Washf atau pemerian yaitu penjelasan perhadap sesuatu dengan sangat simbolistik dan ekspresionistik.

Istilah As Sab’ah al-Muallaqah merupakan sebutan dari tujuh syair terbaik yang digantungkan di ka’bah. As Sab’ah Al Muallaqah adalah Qasidah panjang yang indah yang diucapkan oleh para penyair jahiliyah dalam berbagai kesempatan dan tema. As Sab’ah Al-Mu’allaqot ini diabadikan dan ditempelkan didinding-dinding Ka’bah pada masa Jahiliyah. Dinamakan dengan Al-Mu’allaqot (Kalung) karena indahnya syair-syair tersebut menyerupai perhiasan yang dikalungkan oleh seorang wanita. Para pujangga Al-Mu’allaqot adalah berjumlah tujuh orang, oleh karena itu mereka dikenal As Sab’ah al-Muallaqah.

Tujuh orang yang pernah masuk dalam As Sab’ah al-Muallaqah adalah Umru’ul Qais al-Kindy, Zuhair bin Abi Sulma, Tharafah bin Abdul bakry, An Nabigah Az Zubiani, Antarah bin Syadad al-Absyi, Kharits bin khllizah, Labid bin Rabi’ah al amiri. Salah satu contoh Syair As Sab’ah al-Muallaqah adalah sebagai berikut:

Contoh Syair As Sab’ah Al-Mu’allaqot dari Zuhair Bin Abi Sulma

Perang yang begitu dahsyat berkecamuk antara kabilah ‘Abs dan kabilah Dzubyan hanya dikarenakan pacuan kuda, perang ini berlangsung hingga 40 tahun lamanya, maka dua orang pembesar dari kabilah lain yaitu Haram bin Sinan dan Al-Harits bin ‘Auf berupaya mendamaikan kedua kabilah tersebut dengan menanggung kerugian akibat perang yang dialami oleh kedua belah pihak, dan akhirnya perangpun berhenti. Hal ini memberikan kekaguman yang luar biasa bagi diri Zuhair bin Abi Sulma sehingga ia menciptakan sebuah Qosidah yang begitu indah dalam rangka memuji kedua orang tersebut. Zuhair berkata :

Aku telah letih merasakan beban kehidupan

Sungguh aku letih setelah hidup delapan puluh tahun ini

Aku tahu apa yang baru saja terjadi dan kemarin hari

Namun terhadap masa depan sungguh aku buta

Barang siapa yang lari dari kematian sungguh akan menemuinya

Walau ia panjat langit dengan tangganya

Barang siapa yang memuji orang yang tak pantas dipuji

Maka esok hari pujiannya itu akan disesali

Seorang manusia tentu memiliki tabiat tertentu

Walau ia sangka tertutupi pasti orang lain akan mengetahui

Itu karena lidah seseorang adalah kunci hatinya

Lidahnyalah yang menyingkap semua rahasia

Lidah itu adalah setengah pribadi manusia dan setengahnya lagi adalah hati

Tidak ada selain itu kecuali daging dan darah sahaja

Bagaimana rasulallah dalam menjalankan pemerintahan (apa yang saudara ketahui tentang piagam madinah).

Sekitar 14 abad yang lalu, Rasulallah Muhammad SAW menjalankan pemerintahan dengan system yang tidak pernah dijalankan oleh siapapun di dunia ini. Entah itu nabi sekalipun. Muhammad menjalankan pemerintahan berdasarkan piagam madinah dimana didalamnya terdapat 47 pasal penting yang mengatur tentang system kenegaraan di masa itu. System ini merupakan system pemerintahan tercanggih yang pernah ada pada saat itu dan mungkin sampai sekarang ini. Piagam madinah ini telah disepakati oleh kaum muhajirin, kaum anshor, kaum yahudi yasrib, dan qobilah lainnya untuk nantinya dijadikan sebagai landasan pelaksanaan istem pemerintahan di madinah al munawwaroh.

Pemerintahan yang dijalankan oleh rasulallah Muhammad SAW adalah pemerintahan yang menjunjung tinggi 47 pasal yang ada dalam isi piagam madinah. Pemerintahan yang damai, penuh toleransi, dan memberikan kebebasan dalam berpendapat dan beragama. Dari 47 pasal yang telah disepakati, pada dasarnya terdapat lima asas yang mendasari system pemerintahan yang dijalankan oleh nabi Muhammad SAW yaitu,

  • Adanya asas kebebasan dalam berpendapat. System ini berjalan dengan baik. Dengan system ini masyarakat pada masa itu merasa mempunyai kebebasan dalam berpendapat dalam segala hal selagi tidak bertentangan dengan syari’at islam dan piagam madinah.
  • Adanya asas kebebasan dalam beragama. System pemerintahan ini berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dengan kemajemukan agama yang ada di pemerintahan yang dipimpin oleh nabi Muhammad SAW. Karena seperti yang diketahui yang menyepakati piagam madinah bukan hanya orang islam saja melainkan juga orang non islam pula.
  • Adanya asas pengakuan terhadap harta dan benda. Hal ini berlaku bagi semua orang yang menyepakati piagam madinah sekalipun dia non muslim. Dari sini dapat diketahui bahwa System pemerintahan ini memberikan ruang yang lebih kepada non muslim dan muslim untuk menjalankan toleransi beragama sehingga pemerintahan yang di jalankan oleh Muhammad SAW berjalan dengan damai.
  • Adanya asas tolong menolong terhadap ancaman dari luar. System pemerintahan ini cenderung ampuh. Karena antara muslim dan non-muslim menjadi kompak untuk mempertahankan Negara dari serangan luar. Imbasnya Negara tetap aman terkendali sesuai dengan yang seharusnya.
  • Adanya asas yang mengatur urusan yang bersifat ekstern dari pemerintahan harus dengan seizin kepala Negara, dalam hal ini adalah nabi Muhammad SAW. System ini berjalan dengan cukup baik sehingga semua hal yang ada di system pemerintahan menjadi berjalan tertib dan teratur sesuai dengan administrasi Negara. Sekalipun ada bahaya dari luar sudah dapat diantisipasi sedini mungkin.

Menurut hemat saya, Lima asas tersebutlah yang menjadi landasan dasar roda pemerintahan yang dijalankan oleh rasulallah Muhammad SAW di Madinah. Dengan lima asas tersebut madinah menjadi Negara yang maju dan jauh dari konflik. Hal itu dikarenakan semua yang nantinya ditakutkan timbul sudah diantisipasi dalam lima asas pemerintahan rasul yang mengacu pada 47 pasal piagam madinah.

Mengapa Model Pemerintahan Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin dikatakan cenderung Teokratis? (Jawaban disesuaikan dengan pembahasan tentang interaksi Islam-Persia).

System pemerintahan teokratis merupakan system pemerintahan di mana pemimpin tertinggi adalah Nabi atau khalifah. Sedangkan pemegang kedaulatan tertinggi adalah Allah SWT. Hal ini didasarkan pada al-Qur’an surat al hajj ayat 64-65 “bagi-Nyalah segala yang ada di langit dan segala yang di bumi” dan “apakah engkau tidak mengetahui bahwa allah telah menunudukkan bagimu segala yang dibumi”. Selain itu, rasul juga tidak menafikan dewan syuro dalam menentukan permasalahan Negara yang dihadapi. Karena pemerintahan rasul lebih mengacu pada system pemerintahan demokratis yang menjunjung tinggi nilai kemaslahatan bersama. Sesuai dengan apa yang tertera pada piagam madinah.

Sedangkan sistem pemerintahan dan birokrasi Persia seringkali mengalami perubahan. Misalnya, Kekaisaran Persia yang dibagi atas beberapa wilayah dan masing-masing dikepalai seorang gubernur atau satrap. Jabatan ini selalu diwariskan dan berautonomi, ini menyebabkan setiap wilayah mempunyai undang-undang, kebudayaan dan kelas bangsawan tersendiri. sekalipun setiap wilayah bertanggung jawab untuk memberi upeti dalam bentuk emas dan perak kepada raja. Tetapi, ini menyebabkan banyak wilayah lain mengalami kemerosotan ekonomi seperti Babilonia dan lain sebaginya. Hal ini dikarenakan secara tidak langsung menuntut setiap wilayah juga mempunyai sistem keuangan dan ketenteraan yang tersendiri. Padahal seharusnya semua itu dikendalikan dari pusat kerajaan supaya perkembangnya menjadi jelas dan mudah dianalisis.

Jika model pemerintahan rasul dan khulafaur rasyidin dikaitkan dengan Persia, maka rasulallah Muhammad ataupun para khalifah tidak akan pernah menghenaki system pemerintahan yang dianut oleh Persia. Hal ini dikarenakan system yang dianut adalah system pemerintahan monarki/kekaisaran. Karena kekaisaran selalu mengedepankan absolutism kekuasaan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang ingin diperlakukan seperti Tuhan. Pemerintahan seperti inilah yang rasulallah benci. Bagi nabi Muhammad pemerintahan yang seperti ini harus dihancurkan. Nabi Muhammad lebih mencintai pemerintahan yang demokratis yang membawa maslahat kepada kepentingan bersama. Karena itu, pada dasarnya System pemerintahan inilah yang telah diakomodir oleh rasulallah SAW dalam piagam madinah, yaitu piagam yang telah disepakati oleh muslim dan non muslim arab pada waktu itu di mana rasul selalu belajar dari segala bentuk pemerinthan yang pernah beliau ketahui.

Sumber:

Ma’arif, Ahmad Syafi’i. 2007. Pemikiran dan Peradaban islam. Yogyakarta: Safiria Insania Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s