Pendidikan Indonesia, Menuju Momentum Kebangkitan?

Jika pendidikan dasar sekarang sudah gratis, mengapa masih banyak anak-anak yang mengemis dan mengamen di jalan-jalan?, Apakah kampanye departemen pendidikan nasional itu hanya sekedar wacana saja untuk memberikan resensi effect bahwa pemerintah telah bekerja dengan baik?.

Marilah kita flash back. Belasan tahun mengenyam pendidikan di Indonesia ternyata belum banyak yang berubah. Banyak persolan serius yang tampaknya masih menunggu untuk ditanggapi dan diselesaikan. Rendahnya mutu pendidikan kita merupakan realitas tak terbantahkan. Rendahnya mutu sekolah misalnya, tampak dari rendahnya jumlah siswa yang lulus dari ujian akhir nasional (UAN) di samping rendahnya mutu lulusan yang hampir terjadi di semua jenjang pendidikan di negeri ini. UAN yang beberapa waktu lalu telah dilaksanakan merupakan indikator kelulusan di Indonesia jika kita menilik Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005. Namun apa yang terjadi, harapan dari UU No. 19 Tahun 2005 tersebut tidak berjalan dengan baik. Bahkan banyak kalangan yang menilai UAN tak bermanfaat karena hanya mengkondisikan penyelewengan-penyelewengan. Beberapa kasus seperti guru membiarkan anak didiknya mencontek, guru mengkoordinir siswanya agar saling bekerjasama dalam UAN, guru memberikan jawaban via sms, dan berbagai macam pelanggaran lainnya. Hal ini dilakukan semata mata agar anak didiknya lulus semua dan citra sekolah naik.

Opini bahwa UAN di Indonesia sebagai standar yang wajar diragukan banyak kalangan. Opini tersebut disandarkan pada realita bahwa banyak juga siswa didik yang telah berhasil lolos dalam Ujian Masuk universitas terkemuka tetapi gagal dalam lulus UAN. Di sisi lain, jika dibandingkan dengan Negara tetangga kualitas pendidikan kita masih jauh tertinggal. Jangakan dari segi penguasaan teknologi informasi ataupun bentuk gedung dengan sarana dan prasarana yang lengkap. Di Indonesia, begitu passing grade dinaikan sedikit saja masih banyak juga yang tidak lulus dan protes pun timbul disana sini.

Selain dari rendahnya kualitas, sampai sekarang pun penilaian pendidikan masih berorientasi hasil, bukan proses. Isinya hafalan, cara cepat membabat soal, dan “ilmu” yang ketika diingat malah makin membuat lupa tanpa penekanan soal pemikiran kritis dan pembentukan sikap mental yang positif. Faktor faktor penting dalam pendidikan seperti kognitif, afektif, dan psikomotorik banyak yang diabaikan. Adalah sangat ironis jika dilihat. Indonesia dulu termasuk negara maju di segi pendidikan. Negeri Jiran saja sempat “mengimpor guru” dari Indonesia untuk menjadi tenaga pengajar. Hal itu membuktikan bahwa pendidik Indonesia pada saat itu benar-benar berkualitas. Akan tetapi realita sekarang sangat berolak belakang dengan masa lalu. Di era penuh tantangan sekarang ini tidak sedikit dari orang Indonesia yang belajar ke negeri Jiran tersebut. Sungguh ironis.

Pendidikan Indonesia di kaca dunia

Menurut hasil survei World Competitiveness Year Book dari tahun 1997 sampai tahun 2007, pendidikan Indonesia berada dalam urutan sebagai berikut, pada tahun 1997 dari 49 negara yang diteliti, Indonesia berada di urutan 39. Pada tahun 1999, dari 47 negara yang disurvei, Indonesia berada pada urutan 46. Tahun 2002 dari 49 negara Indonesia berada pada urutan 47 dan pada tahun 2007 dari 55 negara yang disurvei, Indonesia menempati urutan yang ke 53.

Yang menarik perlu dilihat adalah pendidikan di negara pembuat ponsel bermerek Nokia. Finlandia, negeri yang paling tidak korup ini dalam survei yang dilakukan Programme for International Student Assestment (PISA) ternyata berhasil mengalahkan 54 negara lainnya dari segi pendidikan. Bahkan, Finlandia tidak hanya pandai dalam mendidik anak-anak “normal,” tapi juga unggul dalam pendidikan bagi anak-anak yang lemah mental.

Finlandia memenangkan survei ini karena metode pendidikannya yang unik. Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.

Kunci dari kesuksesan mereka terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran di Finlandia. Di Negara ini remedial tidak dianggap sebagai kegagalan tapi untuk perbaikan. Orientasi dibuat untuk tujuan-tujuan yang harus dicapai. Penekanan ada di proses, bukan hasil. PR dan ujian tidak harus dikerjakan dengan sempurna, yang penting murid menunjukkan adanya usaha. Di Finlandia, Ujian justru dipandang sebagai penghancur mental siswa, layaknya UAN yang ada di Indonesia.

Finlandia sukses menggabungkan kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Di Finlandia, perbedaan antara murid berprestasi baik dan murid yang kurang sangatlah kecil. Kata seorang guru di Finlandia, “Kalau saya gagal dalam mengajar seorang murid, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya!”. Bandingkan dengan Negara kita, yang banyak menyalahkan anak didiknya ketika mereka tidak lulus. Hal yang sungguh kontras bukan?

Salah satu tokoh pendidikan dunia, Greg Mankiw dalam salah satu artikelnya pernah mengatakan bahwa setiap tahun bertambahnya lulusan universitas di Finlandia akan menyumbangkan tambahan pendapatan 12,9 persen. Walaupun tentu saja pendidikan semata mata bukan untuk uang, akan tetapi jika tujuan hidup hanya untuk kaya, cara terbaik yang bisa kamu lakukan adalah dengan bersekolah. Lalu bagaimana dengan Negara kita, Indonesia?

Indonesia adalah Negara besar dengan potensi yang sangat besar pula. Bila di asumsikan terdapat 1 persen dari jumlah warga negara adalah termasuk golongan jenius, maka seharusnya terdapat 2,2 juta orang berbakat di Indonesia. Namun bagaimana menemukan mereka, mengasah mereka, memberi mereka kesempatan, supaya mereka bisa mengembangkan potensinya atau kita telah berlaku sebaliknya, hanya duduk diam dan berepangku tangan. Indonesia bagus dalam berbagai bidang seperti fisika, matematika dan biologi. Banyak berbagai prestasi yang telah ditorehkan sejumlah penerus bangsa. Seperti Farid seorang anak pedagang rokok yang berhasil menjuarai catur dunia. Priyadi yang memenangkan “Google India Code Jam Contest”. Deassy Novita yang menemukan ion motion control di elektrolit. Kesha pemenang olimpiade Fisika. Tim kalingga yang memenangkan world champion dalam business plan di Paris. Namun sangat disayangkan mengapa pemerintah masih belum mengambil banyak tindakan untuk segera menemukan anak berpotensi dan berbakat lainnya.

Waktu terus bergulir dan roda kehidupan terus berputar. Apapun yang ada saat ini, Indonesia harus memiliki impian yang besar. Film Laskar pelangi yang begitu mengilhami banyak orang harusnya dijadikan pelajaran yang berarti bahwa potensi Negara ini begitu besar. Impian itu diharapkan memberi inspirasi, semangat, secercah harapan dan kepercayaan untuk menjadikan Indonesia lebih baik dari saat ini. Akhirnya seperti kata pepatah, Jika ingin memegang suatu bangsa, peganglah pilarnya, yakni pendidikan. Jika ingin membuat bangsa kita selalu tumbuh, maka perhatikanlah pendidikannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s