Pembatal Puasa Di Era Modern

A. Deskripsi Masalah

Puasa merupakan ibadah yang sering dilakukan oleh setiap Muslim. Puasa juga menjadi rukun Islam yang ke empat sehingga permasalahan puasa menjadi permasalahan vital dalam Islam. Secara umum, adanya suatu ibadah selalu diiringi sesuatu yang wajib dilakukan dan sesuautu yang membatalkannya, termasuk puasa. Dalam fiqih klasik sering disebutkan bahwa pembatal puasa adalah makan dan minum yang disengaja, jima’, haid, dan nifas. Akan tetapi seiring perkembangan zaman dan tekhnologi masa kini muncul berbagai permasalahan-permasalahan baru yang perlu dikaji lebih lanjut di mana  permasalahan-permasalahan baru tersebut termasuk dalam kualifikasi pembatal puasa di Era Modern atau tidak.

Permasalahan pembatal puasa di Era modern seringkali muncul dari beberapa istilah kedokteran atau ranah medis. Misalnya infuse, suntik pengobatan, obat tetes mata, obat tetes telinga, Dialis, donor darah dan anestesi. Produk-produk kesehatan inilah yang seringkali membingungkan masyarakat awam. Apakah produk-produk tersebut membatalkan puasa atau tidak ketika dilakukan pada saat seseorang tersebut dalam keadaan berpuasa.Berdasarkan beberapa uraian di atas, maka diperlukan pembahasan yang lebih komprehensif mengenai pembatal puasa di Era modern. Tujuannya sederhana saja yaitu supaya mendapatkan deskripsi hukum yang jelas dari beberapa permasalahan yang muncul di masa kini.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan beberapa uraian di atas, maka permasalahan dalam penulisan ini dapat dirumuskan, yaitu Apakah produk kesehatan seperti infuse, suntik pengobatan, obat tetes mata, obat tetes telinga, obat tetes hidung, dialis, donor darah, dan anestesi dapat dikategorikan sebagai pembatal puasa di Era modern ataukah tidak?.

C. Studi Pendekatan

Studi pendekatan dari makalah ini adalah deskriptif analitis approach, dimana penulis memberikan deskripsi permasalahan dan menganalisisnya secara kritis dan rinci sehingga nantinya diperoleh informasi dan kejelasan hukum dari rumusan masalah yang telah penulis paparkan.

D. Pembahasan

D.1 Pengertian Puasa

Puasa merupakan salah satu ibadah yang sering dilakukan oleh setiap muslim, baik itu berupa puasa sunah ataupun puasa wajib. Beberapa literature teks Arab dijelaskan bahwa pengertian puasa seperti teks dibawah ini:

أولاً: تعريف الصيام لغة:

قال ابن فارس: “الصاد والواو والميم أصل يدل على إمساك”.أهـ. وفي لسان العرب([i]): الصوم الإمساك عن الشيء، والترك له، ولذلك قيل للصائم صائماً لإمساكه عن الشراب والطعام والنكاح، وقيل للصامت صائماً؛ لإمساكه عن الكلام ومنه: ﴿إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْماً فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنسِيّاً﴾ ([ii]) وقال أبو عبيدة كل ممسك عن طعام، أو كلام، أو سير، فهو صائم”.أهـ. وقال البيضاوي: الصوم في اللغة الإمساك عما تنزع إليه النفس أهـ([iii]) .

Dari teks di atas dapat diketahui bahwa Ibnu Faris mengartikan puasa sebagai kegiatan menahan. Orang Arab mengartikan puasa yaitu puasa menahan diri dari sesuatu dan menjauhi yang membatalkannya. Puasa juga diartikan sebagai menahan dari makan, minum, dan jima’. Dalam al Qur’an, Puasa diartikan menahan untuk berbicara (Ghibah) seperti apa yang di nashkan dalam surat Maryam ayat 26. Sedangkan Abu Ubaidah Mengartikan Puasa yaitu menahan diri dari makan, minum, berbicra (Ghibah), berjalan (menuju kemaksiatan). Dan yang terakhir, Al Baidhawi mengartikan puasa sebagai mencegah dari segala sesuatu yang dapat merusak diri baik itu yang bersifat ke dalam dan yang bersifat ke luar.

ثانياً: تعريف الصيام شرعاً:

عند الأحناف: الإمساك عن أشياء مخصوصة، وهي الأكل، والشرب، والجماع، بشرائط مخصوصة([iv]) . أهـ. وعند المالكية : الإمساك عن شهوتي الفم، والفرج، وما يقوم مقامهما في جميع أجزاء النهار، وبنية قبل الفجر ([v]). وعند الشافعية: إمساك مخصوص، في زمن مخصوص، من شخص مخصوص([vi]) وعند الحنابلة: إمساك عن المفطرات، من طلوع الفجر الثاني إلى غروب الشمس([vii]) .

Dari teks dapat diperoleh beberapa pengertian tentang pengertian puasa secara syar’i. Imam Hanafi mengartikan puasa yaitu menahan diri dari sesuatu yang dikhususkan yaitu makan, minum, dan jima’ dengan syarat-syarat tertentu. Madzhab Maliki mengartikan puasa yaitu menahan diri dari syahwat mulut, syahwat kelamin, dan apapun yang disandarkan pada keduanya dimulai dari terbitnya fajar sampai selesainya siang (Ghurubus Syams). Imam Syafi’i mengartikan puasa yaitu menahan diri dari sesuatu yang dikhususkan pada waktu yang khusus bagi orang-orang tertentu. Dan Menurut Imam Hambali, Puasa yaitu menahan dari sgala sesuatu yang membatalkan puasa, mulai dari terbitnya fajar yang kedua sampai pada terbenamnya matahari.

D.2 Pengertian Pembatal (المفطرات)

Untuk pengertian pembatal (Mufatthirot), simaklah teks di bawah ini supaya tidak terjadi kesimpangsiyuran dalam memahami arti yang sebenarnya.

تعريف المفطرات :

هي مفسدات الصيام، وقد بحثها الفقهاء وذكروا الخلاف في بعضها، ولا يتعلق ذلك بهذا البحث، إذ المراد بحث المسائل المعاصرة، وقد يذكر شيء منها لتخريج مسألة معاصرة عليها بحيث يستفاد منه الحكم الشرعي. وقد جمعها الغزالي بقوله: والمفطرات ثلاثة، دخول داخل، وخروج خارج، وجماع([viii]).

Dari teks di atas dapat diketahui bahwa Al Mufatthirot diartikan sebagai hal-hal yang dapat merusak puasa. Dan para ahli fiqih telah lama membahasnya dan memaparkan berbagai perbedaannya. Selain itu, dari teks di atas juga dapat diketahui bahwa Menurut Imam al Ghazali yang membatalkan puasa terdapat tiga hal, yaitu memasukkan sesuatu yang sifatnya ke dalam (makan dan minum), mengeluarkan sesuatu yang sifatnya keluar (muntah), dan jima’ (berhubungan badan).

D.3 Pengertian Mu’ashiroh (المعاصرة)

Untuk pengertian Modern (Mua’shiroh), simaklah teks di bawah ini supaya tidak terjadi kesimpangsiyuran dalam memahami arti yang sebenarnya.

تعريف المعاصرة : مأخوذة من العصر، وله في اللغة ثلاثة معاني ذكرها ابن فارس ([ix]). يعنينا منها معنى وهو: الدهر..فالمراد به في هذا البحث: المفطرات التي ظهرت في عصرنا الحديث.

Dari teks di atas dapat diketahui bahwa Mu’ashiroh menurut pemaparan Ibnu Faris diambil dari kata Ashr yang diartikan masa. Pada konteks ini Mua’shiroh diartikan sebagai pembatal puasa yang muncul di masa kini atau masa modern.

D.4 Pembatal Puasa Dalam Fikih Klasik (المفطرات المتفق عليها في الشرع)

Untuk mengetahui hal tersebut marilah kita simak teks di bawah ini supaya tidak terjadi kesimpangsiyuran dalam memahami arti yang sebenarnya.

المفطرات المتفق عليها في الشرع :

هناك مفطرات دل النص والإجماع على أنها مفسدة للصيام، وهي كما يلي: 1ـ الأكل. 2ـ الشرب. 3ـ الجماع. ودليل هذه الثلاثة قوله تعالى: ﴿ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُواْ مَا كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَكُلُواْ وَاشْرَبُواْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّواْ الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ ﴾([x]) 4ـ دم الحيض والنفاس. ودليله حديث أبي سعيد الخدري أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (( أليس إذا حاضت لم تصل ولم تصم))([xi]).

Berdasarkan teks di atas dapat diketahui bahwa yang membatalkan puasa dalam fikih klasik di mana pembatal puasa tersebut di dasarkan pada Nash al Qur’an Surat al Baqarah ayat 187 adalah (i) makan, (ii) minum, (iii) jima’. Selain tiga hal tersebut, Haid dan Nifas juga termasuk di dalamnya sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dalam Shohih Bukhory (304) dan Muslim dalam Shohih Muslim (79).

D.5 Kajian Terhadap Pembatal Puasa di Era Modern (مفطرات الصيام المعاصرة)

Berangkat dari rumusan masalah di atas, ada beberapa permasalahan yang harus diketahui kejelasan hukumnya, apakah permasalahan-permasalahan tersebut termasuk dalam kategori pembatal puasa di Era Modern ataukah tidak?

Infuse (الحقنة الوريدية المغذية)

Dalam istilah kedokteran, infuse seringkali diartikan sebagai memasukkan cairan pengganti makanan ke dalam tubuh melalui vena, untuk tujuan terapeutik.[xii] Dalam referensi lain, Dr. Willie Japaries mengartikan infuse (intravenous fluids infusion) adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan dan zat-zat makanan dari tubuh.[xiii]

Untuk memahami lebih lanjut marilah disimak teks berikut ini:

وقد اختلف فيها الفقهاء المعاصرون على قولين:

القول الأول: أنها تفطر الصائم، وهو قول الشيخ عبد الرحمن السعدي([xiv])، وشيخنا عبد العزيز بن باز([xv]). وشيخنا محمد العثيمين([xvi])، ومحمد بشير الشقفه([xvii])، وهو من قرارات المجمع الفقهي([xviii]). الدليل: أن الإبر المغذية في معنى الأكل والشرب، فإن المتناول لها يستغني بها عن الأكل والشرب([xix]) .

القول الثاني: أنها لا تفطر ، وهو قول الشيخ محمد بخيت([xx]) ، والشيخ محمد شلتوت([xxi]) ، والشيخ سيد سابق([xxii]). الدليل: أن مثل هذه الحقنة لا يصل منها شيء إلى الجوف من المنافذ المعتادة أصلاً، وعلى فرض الوصول فإنما تصل من المسام فقط، وما تصل إليه ليس جوفاً، ولا في حكم الجوف([xxiii]).

الجواب: سبق أن علة التفطير ليست وصول الشيء إلى الجوف من المنفذ المعتاد، بل حصول ما يتقوى به الجسم ويتغذى، ونقلت عن شيخ الإسلام ما يوضح هذا أتم توضيح.

الراجح: الأقرب ما عليه جمهور الفقهاء المعاصرين أن الإبرة المغذية تفطر الصائم لقوة أدلتهم وتوافقها مع مقاصد الشارع .

Untuk membedah permasalahan ini sesuai dengan apa yang ada dalam teks maka: Pendapat pertama, Menurut Syaikh Abdurrahman as Sa’dy, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad Utsaimin, Syaikh Basyir as Saqfah, dan Lembaga Majma’al Fiqhi menyatakan bahwa infuse membatalkan puasa. Alasannya karena dalam infuse terdapat zat-zat pengganti makanan dan hal itu ketika diberikan dihukumi sama dengan makan dan minum. Sedangkan Pendapat kedua, Menurut Syaikh Muhammad Bukhoit, Syaikh Muhammad Syaltut, dan Sayyid Sabiq Menyatakan bahwa infuse tidak membatalkan puasa. Alasannya adalah proses yang terjadi pada infuse tidak seperti pada normalnya proses orang yang sedang makan. Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa sebab infuse itu membatalkan puasa bukan karena sampainya sesuatu kepada rongga mulut melainkan sampainya sesuatu yang membuat badan itu kuat.

Pendapat yang kuat diantara kedua pendapat tersebut adalah pendapat jumhur ulama modern yang menyatakan infuse itu membatalkan puasa dengan alasan yang sudah tertera pada pendapat pertama.

Sutik Pengobatan (الحقنة العلاجية)

Marilah kita simak teks Arab di bawah ini dengan seksama supaya diperoleh hkum yang jelas.

الحقنة العلاجية الجلدية : لم أرى خلافاً بين المعاصرين أن الحقنة الجلدية أو العضلية لا تفطر([xxiv])،فذهب إلى ذلك شيخنا عبد العزيز بن باز([xxv]) وشيخنا محمد العثيمين([xxvi])، والشيخ محمد بخيت([xxvii])، والشيخ محمد شلتوت([xxviii]) ، ود.فضل عباس([xxix])، ود.محمد هيتو([xxx])، ومحمد بشير الشقفة([xxxi])، وهو من قرارات المجمع الفقهي([xxxii]) . الدليل: أن الأصل صحة الصوم حتى يقوم دليل على فساده ،وهذه الإبرة ليست أكلاً، ولا شرباً، ولا بمعنى الأكل والشرب، وعلى هذا فينتفي عنها أن تكون في حكم الأكل والشرب([xxxiii]) .

Dari teks di atas, dapat diketahui bahwa hukum mengenai suntik pengobatan adalah tidak membatalkan puasa. Pendapat ini merupakan pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad Utsaimin, Syaikh Muhammad Bukhoit, Syaikh Muhammad Syaltut, Dr. Fadhl Abbas, Dr Muhammad Haitu, dan Muhammad Basyir as Saqfah. Mereka berpendapat demikian karena puasa itu tetap sah sampai ada dalil yang menunjukkan kerusakannya dan injeksi (suntik) tidak termasuk kategori makan, tidak termasuk kategori minum, dan tidak bisa disamakan dengan makan dan minum. Sehingga suntik tidak membatalkan puasa.

Obat Tetes Hidung (قطرة الأنف)

Obat Tetes Hidung Merupakan obat farmasi yang diteteskan pada hidung. Apakah obat ini membatalkan puasa ataukah tidak maka marilah kita simak teks dibawah ini supaya tidak terjadi kesimpangsiyuran dalam memahami masalah yang ada:

واختلف الفقهاء المعاصرون في التفطير بالقطرة على قولين:

القول الأول: أنه لا يفطر وقال به( الشيخ هيثم الخياط، والشيخ عجيل النشمي)([xxxiv]).

الأدلة: 1ـ أن ما يصل إلى المعدة من هذه القطرة قليل جداً، فإن الملعقة الواحدة الصغيرة تتسع إلى 5سم3 من السوائل، وكل سم3 يمثل خمس عشرة قطرة، فالقطرة الواحدة تمثل جزءً من خمسة وسبعين جزءً مما يوجد في الملعقة الصغيرة ([xxxv]) . وبعبارة أخرى حجم القطرة الواحدة (0.06) من السم3. ويمتص بعضه من باطن غشاء الأنف، وهذا القليل الواصل أقل مما يصل من المتبقي من المضمضة كما سبق تحريره، فيعفى عنه قياساً على المتبقي من المضمضة. 2ـ أن الدواء الذي في هذه القطرة مع كونه قليلاً فهو لا يغذي، وعلة التفطير هي التقوية والتغذية ـ كما سبق تقريره ـ وقطرة الأنف ليست أكلاً ولا شرباً، لا في اللغة، ولا في العرف، والله تعالى إنما علق الفطر بالأكل والشرب.

القول الثاني: أن القطرة في الأنف تفطر، وقال به شيخنا عبد العزيز بن باز([xxxvi])، وشيخنا محمد ابن عثيمين([xxxvii]) ، (والشيخ محمد المختار السلامي، ود. محمد الألفي)([xxxviii]). دليلهم : أن النبي r قال في حديث لقيط بن صبرة : ((بالغ بالاستنشاق إلا أن تكون صائماً)) . فالحديث يدل على أنه لا يجوز للصائم أن يقطر في أنفه ما يصل إلى معدته([xxxix]) . الراجح : الذي يظهر لي عدم التفطير بقطرة الأنف، ولو وصل شيء منها إلى المعدة ؛ لما سبق من أنها ليست أكلاً ولا شرباً ولا في معناهما ، وأيضاً لأن الواصل منها أقل بكثير من المتبقي من المضمضة فهي أولي بعدم التفطير ، والله تعالى أعلم بالصواب.

Dari teks di atas dapat diketahui bahwa hukum obat tetes hidung adalah sebagai berikut: Pendapat Pertama, Menurut Syaikh Haisyam al Khiyath dan Syaikh Ujail an Nasyimy, obat tetes hidung tidak membatalkan puasa. Alasan yang digunakan oleh kedua ulama ini adalah analogi terhadap apa yang tersisa dari kumur-kumur, sebagaimana telah lalu penjelasannya. Satu tetes hanya 0,06 cm3. Kemudian satu tetes ini akan masuk ke hidung, dan tidak akan sampai ke perut kecuali jumlah yang sangat sedikit, sehingga dimaafkan.

Sedangkan pendapat yang kedua, menurut Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad Utsaimin, Syaikh Muhammad Mukhtar as Salamy, dan Dr Muhammad Alfy bahwa obat tetes hidung membatalkan puasa. Alasan mereka adalah hadist yang diriwayatkan oleh Laqith bin Shobroh, yang diriwayatkan secara marfu’ yang artinya “Berlebih-lebihanlah dalam istinsyaq (menghirup air lewat hidung ketika wudhu) kecuali jika kamu berpuasa.”. Maka ini dalil bahwa hidung adalah saluran yang terhubung ke perut. Jika demikian, maka menggunakan obat tetes (hidung) dilarang oleh Nabi – shollallohu ‘alaihi wa salla. Adapun pendapat yang kuat adalah Obat tetes hidung tidak membatalkan puasa dikarenakan sekalipun apa yang diteteskan itu sampai ke perut tetapi pada dasarnya itu bukan termasuk kategori makan dan minum sehingga tidak bisa dihukumi sama dengan makan dan minum. Sekalipun sampai itu hanyalah sedikit dan yang sedikit itu dimaafkan seperti dimaafkannya berkumur ketika puasa.

Obat tetes Telinga (قطرة الأذن)

Obat tetes telinga adalah obat farmasi yang diteteskan pada telinga. Apakah obat ini membatalkan puasa ataukah tidak? maka marilah kita simak teks dibawah ini supaya tidak terjadi kesimpangsiyuran dalam memahami masalah yang ada:

حكم القطرة في الأذن عند الفقهاء، اختلف العلماء في هذه المسألة على قولين:

القول الأول: إذا صب دهن في الأذن أو أدخل الماء أفطر، وهو مذهب الأحناف([xl])، والمالكية([xli])، والأصح عند الشافعية([xlii]) ومذهب الحنابلة([xliii])ـ إذا وصل إلى دماغه. وقد ذهب هؤلاء إلى القول بالتفطير، بناءً على أن ما يوضع في الأذن يصل إلى الحلق، أو إلى الدماغ، فهذا صريح تعليلهم. ولذلك جاء في منح الجليل([xliv]) “فإن تحقق عدم وصوله للحلق من هذه المنافذ ـ يقصد الأنف والأذن والعين ـ فلا شيء عليه”

القول الثاني: أنه لا يفطر، وهو وجه عند الشافعية، ومذهب ابن حزم([xlv]).

وبنى هؤلاء قولهم على أن ما يقطر في الأذن لا يصل إلى الدماغ، وإنما يصل بالمسام .([xlvi]) وفي الحقيقة لا خلاف بين هذين القولين؛ لأن المسألة ترجع إلى التحقق من وصول القطرة التي في الأذن إلى الجوف، وقد بين الطب الحديث أنه ليس بين الأذن وبين الجوف ولا الدماغ قناة ينفذ منها المائع إلا في حالة وجود خرق في طبلة الأذن([xlvii]).

فإذا تبين أنه لا منفذ بين الأذن والجوف فيمكن القول ـ بناءً على تعليلات القائلين بالتفطير ـ أن المذاهب متفقة على عدم إفساد الصيام بالتقطير في الأذن.

Dari teks di atas dapat diketahui bahwa hukum obat tetes telinga masih diperselisihkan. Pendapat pertama, Madzhab Hanafi dan Maliki menghukumi batal puasanya sedangkan Madzhab Syafi’i dan hambali menghukumi batal puasanya jika obat yang diteteskan tersebut sampai ke otak. Pendapat ini didasarkan pada alasan jika obat yang diteteskan tadi sampai pada otak atau tenggorokan. Sedangkan pendapat kedua menyatakan tidak membatalkan puasa. Pendapat ini disampaikan oleh sebagian pengikut Madzhab syafi’i dan Ibnu Hazm al Andalusy dikarenakan apa yang diteteskan tidak sampi ke otak dan hanya sampai pada pori-pori.

Selain itu, kedokteran modern telah menjelaskan bahwa tidak ada saluran antara telinga dan otak yang bisa menghantarkan benda cair kecuali pada satu keadaan, yaitu jika terjadi kerusakan celah pada gendang telinga. Berdasarkan hal ini, maka yang benar adalah obat tetes telinga tidak membatalkan puasa. Permasalahannya sekarang, Jika ada celah pada gendang telinga, apakah hal tersebut membatalkan puasa. Apabila hal ini terjadi maka ketika itu pengobatan melalui jalur telinga hukumnya sama dengan pengobatan melalui jalur hidung.

Obat Tetes Mata (قطرة العين)

Marilah kita simak teks dibawah ini supaya tidak terjadi kesimpangsiyuran dalam memahami masalah yang ada:

اختلف الفقهاء فيما يوضع في العين:

القول الأول: ذهب أكثر أهل العلم إلى أن قطرة العين لا تفطر، وهو قول شيخنا عبد العزيز بن باز([xlviii]) ، وشيخنا محمد العثيمين([xlix])، ود. فضل عباس([l])، ود. محمد حسن هيتو([li])، (ود. وهبه الزحيلي ود. الصديق الضرير والشيخ عجيل النشمي، وعلي السالوس)([lii])، ومحي الدين مستو([liii]) ، ومحمد بشير الشقفه([liv]). الأدلة : 1ـ أن جوف العين لا تتسع لأكثر من قطرة واحدة، والقطرة الواحدة حجمها قليل جداً، فإن الملعقة الواحدة الصغيرة تتسع إلى 5سم3 من السوائل، وكل سم3 يمثل خمس عشرة قطرة، فالقطرة الواحدة تمثل جزءاً من خمسة وسبعين جزءاً مما يوجد في الملعقة الصغيرة ([lv]). وبعبارة أخرى حجم القطرة الواحدة (0.06) من السم3([lvi]). وإذا ثبت أن حجم القطرة قليل فإنه يعفى عنه، فهو أقل من القدر المعفو عنه مما يبقى من المضمضة ([lvii]) . 2ـ أن القطرة في العين لا تفطر لأنها ليست منصوصاً عليها، ولا بمعنى المنصوص عليه، والعين ليست منفذاً للأكل والشرب ولو لطخ الأنسان قدميه ووجد طعمه في حلقه لم يفطره؛ لأن ذلك ليس منفذاً فكذلك إذا قطر في عينه([lviii]).

القول الثاني: أن قطرة العين تفطر: قال به من المعاصرين (الشيخ محمد المختار السلامي، د. محمد الألفي)([lix]). الأدلة : قياساً على الكحل إذا وصل إلى الحلق. المناقشة: يجاب عنه بأن الكحل محل خلاف كما تقدم، والأقرب أنه لا يفطر به الصائم ، فلا يصح القياس عليه.

الراجح : الذي يظهر ـ والله تعالى أعلم ـ أن أرجح القولين القول الأول، وأنه ليس هناك ما يعتمد عليه في جعل قطرة العين مفسدة للصيام .

Dari teks di atas dapat diketahui bahwa hukum obat tetes mata dalam konteks pembatal puasa adalah adalah: Pendapat pertama, Bahwa obat tetes mata tidak membatalkan puasa. Ini pendapat Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz, Syaikh Muhammad Sholeh Ibnu Utsaimin, Dr Fadhl Abbas, Dr Hasan Haitu, Wahbah Az Zuhaily,  Dr Ujail an Nasyimy, dan Ali As Salusy. Mereka berdalil bahwa satu tetes obat mata ini = 0,06 cm3. Dan ukuran ini tidak sampai ke dalam perut. Karena tetesan ini dalam perjalanannya melewati saluran air mata diserap seluruhnya dan tidak akan sampai pada tenggorokan. Jika kita katakan ada yang masuk ke dalam perut, maka itu adalah sangat sedikit sekali. Dan sesuatu yang sangat sedikit bisa dimaafkan. Sebagaimana dimaafkannya air yang tersisa dari kumur-kumur. Selain itu, alasan lainnya adalah obat tetes ini bukanlah perkara yang ada nashnya, dan tidak pula yang semakna dengan perkara yang ada nashnya.

Pendapat kedua membatalkan puasa. Pendapat tersebut diprakarsai dua ahli fiqih kontemporer yaitu Dr Muhammad Mukhtar as Salamy dan Dr Muhamad Alfy. Alasan  mereka adalah obat tetes mata tersebut di dianalogikan kepada celak. Adapun analogi terhadap celak, maka tidak bisa dibenarkan (i) Karena celak sendiri belum jelas apakah membatalkan puasa, sedangkan hadits yang ada tentangnya adalah hadits yang dhoif (lemah) (ii) Karena itu adalah analogi terhadap sesuatu perkara yang masih diperselisihkan (iii) Dan karena dalil-dalil yang telah disebutkan pada pendapat yang pertama. Karena itu hal ini qiyasnya tidak benar.

Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang pertama. Hal ini dikarenakan pada dasarnya obat tetes mata tidak hukumi sama dengan makan dan minum. karena dia tidak semakna dengan makan dan minum. Oleh karena itu, puasanya tidak batal jika seseorang melakukan ini.

Donor Darah (التبرع بالدم)

Untuk mengetahui Hukum donor darah apakah membatalkan puasa atau tidak maka simaklah teks dibawah ini sehingga diperoleh kejelasan dalam hukum.

بحث الفقهاء المتقدمون مسألة الحجامة من حيث التفطير بها، وعدمه، وهي تشبه تماماً التبرع بالدم، ففي كل منهما إخراج للدم، وإن كان الهدف من التبرع إعانة، الآخرين، والهدف من الحجامة التداوي، ولكن لا أثر للمقصود منهما على مسألة التفطير في الصيام.

وقد اختلف الفقهاء في الحجامة على قولين:

القول الأول: أن الحجامة تفطر وتفسد الصوم، وهو مذهب الحنابلة، وإسحاق، وابن المنذر، وأكثر فقهاء الحديث([lx])، واختاره شيخ الإسلام([lxi]). دليلهم: قوله r  :(( أفطر الحاجم والمحجوم))([lxii]) .

القول الثاني: أن الحجامة لا تفطر، وهو مذهب الجمهور من السلف والخلف([lxiii]). الأدلة :1ـ حديث ابن عباس (( احتجم رسول الله r وهو صائم))([lxiv])، وفي لفظ عند الترمذي ((احتجم وهو صائم محرم)) قالوا وهو ناسخ لحديث (( أفطر الحاجم والمحجوم)). 2ـ حديث أبي سعيد الخدري (( رخص رسول الله r للصائم في الحجامة))([lxv]). 3ـ حديث أنس بن مالك أول ما كرهنا الحجامة للصائم أن جعفر بن أبي طالب احتجم وهو صائم، فمر به النبي صلى الله عليه وسلم فقال: أفطر هذان، ((ثم رخص النبي صلى الله عليه وسلم بالحجامة للصائم وكان أنس يحتجم وهو صائم)) ([lxvi]). 4ـ حديث ثابت البناني أنه قال لأنس بن مالك: أكنتم تكرهون الحجامة للصائم على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: لا، إلا من أجل الضعف”([lxvii]).

القول المختار: في هذه المسألة إشكال، لكن الذي يظهر رجحان مذهب أكثر السلف، وهو عدم التفطير؛ للأحاديث المتكاثرة المصرحة بلفظ الترخيص، وهو يكون بعد المنع، قال ابن حزم ولفظة “أرخص” لا تكون إلا بعد النهي، فصح بهذا الخبر نسخ الخبر الأول”([lxviii]) أهـ. والخلاصة: أن التبرع بالدم يقاس على مسألة الحجامة، والذي تدل عليه الأدلة أن الحجامة لا تفطر. فكذلك التبرع بالدم.

Dari teks di atas dapat diketahui bahwa permasalahan ini dibangun di atas permasalahan hijamah (bekam). Pendapat Pertama adalah Menurut Madzhab Hambali, Ishaq, Ibnu Munadzar, Fuqaha’ul Hadist, dan Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa Hijamah membatalkan puasa. Alasannya adalah hadits rasul yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi yang artinya “orang yang membekam dan dibekam batal puasanya”. Pendapat kedua, Hijamah tidak membatalkan puasa. Pendapat ini merupakan pendapat Jumhurus Salaf dan Jumhurul Khalaf. Hal ini didasarkan pada empat hadist dan salah satunya adalah hadist yang diriwayatkan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita, awal dimakruhkannya bekam bagi orang yang berpuasa adalah ketika Ja’far bin Abi Thalib berbekam sedang dia dalam keadaan berpuasa, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berpapasan dengannya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kedua orang ini telah batal puasanya”. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringan berbekam bagi orang yang berpuasa. Sementara Anas sendiri pun pernah berbekam ketika dia dalam keadaan berpuasa.

Pendapat yang kuat adalah Hijamah tidak membatalkan puasa karena adanya tarkhis tentang hijamah yang diberikan oleh rasulallah kepada salah satu sahabat.  Selain itu juga didasarkan pada perintah setelah adanya larangan. Jadi donor darah tidak membatalkan puasa. Hal ini diqiyaskan dengan hijamah. karena pada dasarnya donor darah pada dan bekam memiliki kesamaan yaitu pada konteks mengeluarkan darah. Oleh karena itu, hal tersebut dapat di analogikan.

Dialis (الغسيل الكلوي)

Untuk mengetahui permasalahan ini secara rinci maka simaklah teks berikut ini supaya tidak terjadi kesimpangsiyuran penjelasan.

التعريف به: هناك طريقتان لغسيل الكلى:

الطريقة الأولى: يتم غسيل الكلى بواسطة آلة تسمى (الكلية الصناعية)، حيث يتم سحب الدم إلى هذا الجهاز، ويقوم الجهاز بتصفية الدم من المواد الضارة، ثم يعيد الدم إلى الجسم عن طريق الوريد، وقد يحتاج إلى سوائل مغذية تعطى عن طريق الوريد.

الطريقة الثانية: تتم عن طريق الغشاء البريتواني في البطن، حيث يدخل أنبوب عبر فتحة صغيرة في جدار البطن فوق السرة، ثم يدخل عادة ليتران من السوائل التي تحتوي على نسبة عالية من سكر الغلوكوز إلى داخل جوف البطن، وتبقى في جوف البطن لفترة، ثم تسحب مرة أخرى، وتكرر هذه العملية عدة مراتٍ في اليوم الواحد، ويتم أثناء ذلك تبادل الشوارد والسكر والأملاح الموجودة في الدم عن طريق البريتوان، ومن الثابت علمياً أن كمية السكر الغلوكوز الموجود في هذه السوائل تدخل إلى دم الصائم عن طريق الغشاء البريتواني.

حكمه: اختلف المعاصرون في غسيل الكلى على قولين:

القول الأول: أنه مفطر، قال به شيخنا عبد العزيز بن باز([lxix])، ود.وهبة الزحيلي([lxx]). الدليل: أن غسيل الكلى يزود الجسم بالدم النقي، وقد يزود مع ذلك بمادة أخرى مغذية، وهو مفطر آخر، فاجتمع له مفطران([lxxi]).

القول الثاني: أنه لا يفطر وهو قول د. محمد الخياط ([lxxii]). الدليل: أن غسيل الكلى يلحق بالحقن فليس أكلاً ولا شرباً إنما هو حقن لسوائل في صفاق البطن ثم استخراجه بعد مدة أو سحب للدم ثم إعادته بعد تنقيته عن طريق جهاز الغسيل الكلوي([lxxiii]) . المناقشة: أن غسيل الكلى قد يكون معه مواد مغذية، ولا يتوقف الأمر على تنقية الدم.

القول المختار: الذي يظهر أن غسيل الكلى فيه تفصيل، فإذا صاحبه تزويد للجسم بمواد مغذية سكرية أو غيرها فلا إشكال أنه يفطر؛ لأن هذه المواد بمعنى الأكل والشرب، فالجسم يتغذى بها ويتقوى. أما إذا لم يكن معه مواد مغذية فإنه لم يظهر لي ما يوجب التفطير به.

Dari teks di atas dapat diketahui bahwa Dialis ini dapat dilakukan dengan dua cara: (i) Dengan perantaraan alat yang disebut mesin dialiser (yang berfungsi sebagai ginjal buatan), dimana darah dipompa menuju alat ini yang kemudian alat ini mencuci darah itu dari berbagai zat berbahaya, kemudian kembali ke dalam tubuh melalui pembuluh vena. Dan dalam perjalanan proses ini, mungkin perlu diberikan makanan cair melalui pembuluh darah. (ii) Melalui membran peritoneum (selaput rongga perut) di perut. Yaitu dengan memasukkan pipa kecil ke dalam dinding perut di atas pusar, kemudian biasanya dimasukkan dua liter cairan yang mengandung gula glukosa berkadar tinggi ke dalam perut, dan dibiarkan di dalam perut selama beberapa waktu, kemudian ditarik kembali dan diulangi proses ini beberapa kali dalam satu hari.

Para ulama kontemporer berselisih pendapat tentangnya, apakah membatalkan puasa atukah tidak. Pendapat pertama: Menurut Syaikh Abdul Aziz bin Baz, cuci darah dapat membatalkan puasa. Dalil mereka, bahwa dialisis akan menggantikan darah dengan darah yang segar, dan juga akan memberikan zat makanan lain. Sehingga terkumpullah dua pembatal puasa. Pendapat kedua: Menurut Dr Muhammad al Khiyath, dialis tidak membatalkan puasa. Alasannya adalah Dialis ini tidak terikat pada injeksi (zat makanan atau zat minuman) karena itu dialis ini tidak bisa dikategorikan seperti hokum makan dan minumnya orang yang berpuasa. Dialis hanyalah memberikan suatu cairan ke dalam cairan peritonitis di dalam perut dan kemudian diekstraksi. Dan setelah itu, terjadi penarikan darah dan kemudian dibersihkan oleh dialisis.

Qaul al Mukhtar dari dua pendapat di atas adalah jika cuci darah yang telah dilakukan di dalamnya mengandung zat makanan atau nutrisi tubuh maka dialisis dikategorikan membatalkan puasa. Karena hal ini dsamakan dengan konteks makan dan minumnya orang puasa.  Selain itu, hal itu juga dapat memperkuat tubuh layaknya orang yang sudah menyantap makan.

D.7 Anestesi (التخدير)

Sebelum meneliti lebih jauh mengenai anestesi membatalkan puasa atau tidak, maka terlebih dahulu bagi kita wajib menyimak teks di bawah ini:

ويتم تخدير الجسم بعدة وسائل:

أ) التخدير عن طريق الأنف، بحيث يشم المريض مادةً غازية تؤثر على أعصابه، فيحدث التخدير.

ب)التخدير الجاف : وهو نوع من العلاج الصيني، ويتم بإدخال إبر مصمتةٍ جافةٍ إلى مراكز الإحساس، تحت الجلد، فتستحثَّ نوعاً معيناً من الغدد على إفراز المورفين الطبيعي، الذي يحتوي عليه الجسم، وبذلك يفقد المريض القدرة على الإحساس.

ج) التخدير بالحقن: وقد يكون تخديراً موضعياً كالحقن في اللِّثة والعضلة ونحوهما. وقد يكون كلياً وذلك بحقن الوريد بعقار سريع المفعول، بحيث ينام الإنسان في ثوان معدودة، ثم يدخل أنبوب مباشر إلى القصبة الهوائية عبر الأنف، ثم عن طريق الآلة يتم التنفس، ويتم أيضاً إدخال الغازات المؤدية إلى فقدان الوعي فقداناً تاماً ([lxxiv]) . وقد يكون مع المخدر إبرة للتغذية، فهذه لها حكمها الخاص، وسيأتي الكلام عليها.

حكم التخدير:

ـ التخدير بالطريقة الأولى لا يعدُّ مفطرا؛ لأن المادة الغازية التي تدخل في الأنف ليست جرماً، ولا تحمل مواد مغذية، فلا تؤثر على الصيام.

ـ كذلك التخدير الصيني لا يؤثر على الصيام؛ لعدم دخول أي مادة إلى الجوف، كذلك التخدير الموضعي بالحقن له الحكم نفسه.

أما التخدير بالحقن فإن كان تخديراً موضعياً فلا يفطر لعدم دخول شيء إلى الجوف .

Dari teks di dapat diketahui bahwa Anestesi dibagi menjadi tiga macam. Diantaranya adalah sebagai berikut.

Pertama: Anestesi lokal melalui jalur hidung. Yaitu, seorang pasien mencium suatu zat yang berupa gas, yang bisa mempengaruhi syarafnya, sehingga terjadilah anestesi. Maka ini tidak membatalkan puasa, karena masuknya benda gas melalui hidung bukan merupakan suatu pelanggaran, dan tidak pula membawa asupan makanan.

Kedua: Akupuntur Anestesi (Anestesi yang dinisbatkan ke negri Cina). Yaitu, dengan memasukkan jarum kering ke pusat syaraf perasa yang ada di bawah kulit sehingga akan menghasilkan semacam kelenjar untuk melakukan sekresi terhadap morfin alami yang ada dalam tubuh. Dengan itu, si pasien akan kehilangan kemampuan untuk merasa. Hal ini tidak mempengaruhi puasa selama anestesi ini terjadi pada tempat tertentu (anestesi lokal) bukan secara menyeluruh (total). Juga karena benda itu tidak masuk ke dalam perut.

Ketiga: Anastesi lokal dengan suntikan. Yaitu dengan memberikan suntikan pada pembuluh darah dengan obat yang bereaksi cepat. Yang bisa menutupi pikiran pasien hanya dalam hitungan detik. Maka selama ini adalah pembiusan lokal, bukan total, maka tidak membatalkan puasa. Selain itu, juga karena ia tidak masuk ke dalam perut.

Akan tetapi, Para ulama berselisih pendapat mengenai orang yang tidak sadarkan diri (Anestesi Total). untuk memahami lebih lanjut marilah disimak teks di bawah ini:

وقد اختلف أهل العلم في فقدان الصائم الوعي هل يفطر أو لا،وفقدان الوعي على قسمين:

القسم الأول: أن يفقده في جميع النهار:

فذهب الأئمة الثلاثة ـ مالك و الشافعي وأحمد ـ إلى أن من أغمي عليه في جميع النهار فصومه ليس بصحيح؛ لقوله صلى الله عليه وسلم :” قال الله كل عمل ابن آدم له إلا الصيام فإنه لي وأنا أجزي به”([lxxv]) وفي بعض طرقه في مسلم “يدع طعامه وشرابه وشهوته” فأضاف الإمساك إلى الصائم، والمغمى عليه لا يصدق عليه ذلك. وذهب الأحناف والمزني من الشافعية إلى صحة صومه، لأنه نوى الصوم، أما فقدان الوعي فهو كالنوم لا يضر([lxxvi]). والأقرب قول الجمهور، لوجود الفرق الواضح بين الإغماء والنوم، فإن النائم متى نبه انتبه، بخلاف المغمى عليه. بناءً على القول بأن المغمى عليه كل النهار لا يصح صومه فمن خُدر جميع النهار بحيث لم يفق أي جزء منه فصيامه ليس بصحيح، وعليه القضاء.

القسم الثاني : ألا يستغرق فقدان الوعي كل النهار:

فذهب أبو حنيفة إلى أنه إذا أفاق قبل الزوال فلابد من تجديد النية([lxxvii]). وذهب مالك إلى عدم صحة صومه([lxxviii]). وذهب الشافعي وأحمد إلى أنه إذا أفاق في أي جزء من النهار صح صومه([lxxix]). ولعل الأقرب ما ذهب إليه الشافعي وأحمد من أنه إذا أفاق في أي جزء من النهار يصح صومه، لأنه لا دليل على بطلانه، فقد حصلت نية الإمساك في جزء النهار. وكما قال شيخ الإسلام لا يشترط وجود الإمساك في جميع النهار، بل اكتفينا بوجوده في بعضه؛ لأنه داخل في عموم قوله:” يدع طعامه وشهوته من أجلي”([lxxx]) بناءً على ما سبق فالتخدير الذي لا يستغرق كل النهار ليس من المفطرات التي تفسد الصوم لعدم وجود ما يقتضي التفطير.أما التخدير الذي يستغرق كل النهار فهو مفطر، والله أعلم.

Dari teks di atas dapat diketahui bahwa untuk orang yang pingsan (anestesi total). maka Hukumnya adalah sevagai berikut:

Pendapat pertama: Menurut Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad, Seseorang yang pingsan sepanjang waktu siang, dia tidak sadar sedikitpun dari waktu siang maka puasanya batal. Dalilnya, sabda Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – dalam Hadits Qudsi, “Dia meninggalkan makan dan minumnya karena Aku.” Dia menyandarkan perbuatan menahan diri (dari makan dan minum itu) kepada orang yang berpuasa. Sedangkan orang yang pingsan tidak tepat dikatakan seperti itu. Pendapat yang kedua mengenai seseorang yang pingsan tidak sepanjang waktu siang, Menurut Imam Hanafi jika dia sadar sebelum tergelincirnya matahari maka dia harus memperbaharui niatnya dan sah puasanya. Menurut Imam Hambali dan Imam Syafi’i, jika dia telah sadar pada sebagian dari waktu siang, maka puasanya sah. Menurut Imam Malik Puasanya tidak sah dengan alasan apapun.

Pendapat yang dianggap paling kuat adalah pendapat Ahmad bin hambal dan asy-Syafi‘i. Karena niat untuk menahan diri (puasa) terwujud meski dengan sebagian dari waktu siang. Anestesi pun dikatakan demikian yaitu diqiyaskan dengan orang yang pingsan.

  1. E. Penutup

Berdsarkan penjelasan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa dalam menjalankan ibadah puasa di masa kini terdapat permasalahan-permasalahan baru yang harus dicari kejelasannya terkait hal-hal yang membatalkan puasa. Dari rumusan permasalahan yang diangkat oleh penulis, maka kesimpulannya adalah di bawah ini:

  1. Permasalahan Infuse. Pendapat pertama, Menurut Syaikh Abdurrahman as Sa’dy, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad Utsaimin, Syaikh Basyir as Saqfah, dan Lembaga Majma’al Fiqhi menyatakan bahwa infuse membatalkan puasa. Dikarenakan dalam infuse terdapat zat-zat pengganti makanan dan hal itu ketika diberikan dihukumi sesuai dengan makan dan minum. Pendapat kedua, Menurut Syaikh Muhammad Bukhoit, Syaikh Muhammad Syaltut, dan Sayyid Sabiq Menyatakan bahwa infuse tidak membatalkan puasa. Alasannya adalah proses yang terjadi pada infuse tidak seperti pada normalnya proses orang yang sedang makan. Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa sebab infuse itu membatalkan puasa bukan karena sampainya sesuatu kepada rongga mulut melainkan sampainya sesuatu yang membuat badan itu kuat. Pendapat yang kuat diantara kedua pendapat tersebut adalah pendapat jumhur ulama modern yang menyatakan infuse itu membatalkan puasa dengan alasan yang sudah tertera pada pendapat pertama.
  2. Permasalahan Suntik pengobatan. Hukum mengenai suntik pengobatan adalah tidak membatalkan puasa. Pendapat ini merupakan pendapat Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad Utsaimin, Syaikh Muhammad Bukhoit, Syaikh Muhammad Syaltut, Dr. Fadhl Abbas, Dr Muhammad Haitu, dan Muhammad Basyir as Saqfah. Alasan mereka berpendapat tidak membatalkan puasa adalah puasa itu tetap sah sampai ada dalil yang menunjukkan kerusakannya. Dan injeksi suntik tidak termasuk kategori makan, tidak termasuk kategori minum, dan tidak bisa disamakan dengan makan dan minum.
  3. Permasalahan Obat Tetes Mata. Pendapat pertama, obat tetes mata tidak membatalkan puasa. Ini pendapat Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz, Syaikh Muhammad Sholeh Ibnu Utsaimin, Dr Fadhl Abbas, Dr Hasan Haitu, Wahbah Az Zuhaily,  Dr Ujail an Nasyimy, dan Ali As Salusy. Mereka berdalil bahwa satu tetes obat mata ini hanyalah 0,06 cm3. Dan ukuran ini tidak akan sampai ke dalam perut. Karena tetesan ini dalam perjalanannya melewati saluran air mata diserap seluruhnya dan tidak sampai pada tenggorokan. Sekalipun sampai ke perut maka itu adalah sangat sedikit sekali. Dan sesuatu yang sangat sedikit bisa dimaafkan. Sebagaimana dimaafkannya air yang tersisa dari kumur-kumur. Pendapat kedua membatalkan puasa. Pendapat tersebut diprakarsai dua ahli fiqih kontemporer yaitu Dr Muhammad Mukhtar as Salamy dan Dr Muhamad Alfy. Alasan mereka adalah obat tetes mata tersebut di dianalogikan kepada celak. Akan tetapi, analogi terhadap celak tidak bisa dibenarkan Karena celak sendiri belum jelas apakah membatalkan puasa, sedangkan hadits yang ada tentangnya adalah hadits yang dhoif. Selain itu tidak diperbolehkan melakukan analogi terhadap sesuatu yang masih dipertentangkan. Adapun pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang pertama. Hal ini dikarenakan pada dasarnya obat tetes mata tidak hukumi sama dengan makan dan minum.
  4. Permasalahan Obat Tetes Telinga. Hukum obat tetes telinga masih diperselisihkan. Pendapat pertama, Madzhab Hanafi dan Maliki menghukumi batal puasanya. Sedangkan Madzhab Syafi’i dan hambali menghukumi batal puasanya jika obat yang diteteskan tersebut sampai ke otak. Pendapat ini didasarkan pada alasan jika obat yang diteteskan tadi sampai pada otak atau tenggorokan. Sedangkan pendapat kedua menyatakan tidak membatalkan puasa. Pendapat ini disampaikan oleh sebagian pengikut Madzhab syafi’i dan Ibnu Hazm al Andalusy. alasan yang digunakan oleh mereka berdua adalah apa yang diteteskan tidak sampi ke otak dan hanya sampai pada pori-pori.
  5. Permasalahan Obat Tetes hidung. Pendapat Pertama, Menurut Syaikh Haisyam al Khiyath dan Syaikh Ujail an Nasyimy, obat tetes hidung tidak membatalkan puasa. Alasan yang digunakan oleh kedua ulama ini adalah analogi terhadap kumur-kumur, sebagaimana telah lalu penjelasannya. Satu tetes hanyalah 0,06 cm3. Kemudian satu tetes ini masuk ke hidung, dan tidak akan sampai ke perut kecuali jumlah yang sangat sedikit, sehingga dimaafkan. Sedangkan pendapat yang kedua, menurut Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad Utsaimin, Syaikh Muhammad Mukhtar as Salamy, dan Dr Muhammad Alfy bahwa obat tetes hidung membatalkan puasa. Alasan mereka adalah hadist yang diriwayatkan oleh Laqith bin Shobroh, yang diriwayatkan secara marfu’ yang artinya “Berlebih-lebihanlah dalam istinsyaq (menghirup air lewat hidung ketika wudhu) kecuali jika kamu berpuasa”. Maka ini dalil bahwa hidung adalah saluran yang terhubung ke perut. Jika demikian, maka menggunakan obat tetes (hidung) dilarang oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa salla. Adapun pendapat yang kuat adalah Obat tetes hidung tidak membatalkan puasa. Sekalipun yang diteteskan itu sampai ke perut tetapi pada dasarnya itu bukan termasuk kategori makan dan minum. Sehingga tidak bisa dihukumi sama dengan makan dan minum dan jika sampai itu hanyalah sedikit. Sesuatu yang sedikit itu dimaafkan seperti dimaafkannya berkumur ketika puasa.
  6. Permasalahan Dialis. Pendapat pertama: Menurut Syaikh Abdul Aziz bin Baz, cuci darah dapat membatalkan puasa. Dalil mereka, bahwa dialisis akan menggantikan darah dengan darah yang segar, dan juga akan memberikan zat makanan lain. Sehingga terkumpullah dua pembatal puasa. Pendapat kedua: Menurut Dr Muhammad al Khiyath, dialis tidak membatalkan puasa. Alasannya adalah Dialis ini tidak terikat pada injeksi (zat makanan atau zat minuman) karena itu dialis ini tidak bisa dikategorikan seperti hokum makan dan minumnya orang yang berpuasa. Dialis hanyalah memberikan suatu cairan ke dalam cairan peritonitis di dalam perut dan kemudian diekstraksi. Dan setelah itu, terjadi penarikan darah dan kemudian dibersihkan oleh dialisis. Adapun Qaul al Mukhtar dari dua pendapat di atas adalah jika cuci darah yang telah dilakukan di dalamnya mengandung zat makanan atau nutrisi tubuh maka dialisis dikategorikan membatalkan puasa. Karena hal ini dsamakan dengan konteks makan dan minumnya orang puasa.  Selain itu, hal itu juga dapat memperkuat tubuh layaknya orang yang sudah menyantap makan.
  7. Donor Darah. Permasalahan ini dibangun di atas permasalahan hijamah (bekam). Pendapat Pertama adalah Menurut Madzhab Hambali, Ishaq, Ibnu Munadzar, Fuqaha’ul Hadist, dan Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa Hijamah membatalkan puasa. Alasannya adalah hadits rasul yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Artinya “orang yang membekam dan dibekam batal puasanya”. Pendapat kedua, Hijamah tidak membatalkan puasa. Pendapat ini merupakan pendapat Jumhurus Salaf dan Jumhurul Khalaf yang didasarkan pada empat hadist. Salah satunya adalah hadist yang diriwayatkan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita, awal dimakruhkannya bekam bagi orang yang berpuasa adalah ketika Ja’far bin Abi Thalib berbekam sedang dia dalam keadaan berpuasa, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berpapasan dengannya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kedua orang ini telah batal puasanya“. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringan berbekam bagi orang yang berpuasa. Sementara Anas sendiri pun pernah berbekam ketika dia dalam keadaan berpuasa. Adapun pendapat yang kuat adalah Hijamah tidak membatalkan puasa karena adanya tarkhis tentang hijamah yang diberikan oleh rasulallah kepada salah satu sahabat. Selain itu juga didasarkan pada perintah setelah adanya larangan. Jadi, donor darah tidak membatalkan puasa. Hukum ini diqiyaskan dengan hijamah. Dikarenakan pada dasarnya donor darah pada dan bekam memiliki kesamaan yaitu pada konteks mengeluarkan darah.
  8. Anestesi. Pertama: Anestesi lokal melalui jalur hidung, yaitu seorang pasien mencium suatu zat yang berupa gas, yang bisa mempengaruhi syarafnya, sehingga terjadilah anestesi. Anestesi tidak membatalkan puasa karena masuknya benda gas melalui hidung bukan merupakan suatu pelanggaran, dan tidak pula membawa asupan makanan. Kedua: Akupuntur Anestesi (Anestesi yang dinisbatkan ke negri Cina). Yaitu, dengan memasukkan jarum kering ke pusat syaraf perasa yang ada di bawah kulit sehingga menghasilkan semacam kelenjar untuk melakukan sekresi terhadap morfin alami yang ada dalam tubuh. Dengan itu, pasien akan kehilangan kemampuan untuk merasa. Anestesi ini tidak mempengaruhi puasa selama anestesi ini terjadi pada tempat tertentu (anestesi lokal) bukan secara menyeluruh (total). Ketiga: Anastesi lokal dengan suntikan, yaitu dengan memberikan suntikan pada pembuluh darah dengan obat yang bereaksi cepat yang bisa menutupi pikiran pasien hanya dalam hitungan detik. Maka selama ini adalah pembiusan lokal bukan total maka tidak membatalkan puasa. Selain itu, juga karena zat tersebut tidak masuk ke dalam perut. Adapun Anestesi total ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama: Menurut Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad, Seseorang yang pingsan sepanjang waktu siang, dia tidak sadar sedikitpun dari waktu siang maka puasanya batal. Dalilnya, sabda Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – dalam Hadits Qudsi, “Dia meninggalkan makan dan minumnya karena Aku.” Dia menyandarkan perbuatan menahan diri (dari makan dan minum itu) kepada orang yang berpuasa sedangkan orang yang pingsan tidak tepat dikatakan seperti itu. Sedangkan pendapat yang kedua mengenai seseorang yang pingsan tidak sepanjang waktu siang, Menurut  Imam Hanafi jika dia sadar sebelum tergelincirnya matahari maka dia harus memperbaharui niatnya dan sah puasanya. Menurut Imam Hambali dan Imam Syafi’I jika dia telah sadar pada sebagian dari waktu siang, maka puasanya sah. Sedangkan Menurut Imam Malik Puasanya tidak sah dengan alasan apapun. Dan pendapat yang dianggap paling kuat adalah pendapat Ahmad bin hambal dan asy-Syafi‘I, Karena niat untuk menahan diri (puasa) terwujud meski dengan sebagian dari waktu siang. Dan tentang anestesi pun dikatakan demikian diqiyaskan dengan orang yang pingsan.

Wallahu a’lam bisshwab.


([i])  Al Khittabi. 2005. Mawahahibul Jalil Min Adillatil Khalil. Qathar: Idarah Ihya’ at-Turats al-Islami. Juz II. Page 378

([ii])  Al Qur’an. 2004. Surat al Maryam ayat 26. Yogyakarta: UII Press. Page 541

([iii])  Loc. Cit. Juz II. Page 378

([iv])  Syaikh Nasr al Amin. 2003. Badhaius Shina’. Mesir: Dar Ibnu Umar. Juz II. Page 75

([v])  Al Khittabi. 2005. Mawahahibul Jalil Min Adillatil Khalil. Qathar: Idarah Ihya’ at-Turats al-Islami. Juz II. Page 378

([vi])  Imam Nawawi. 2002. Al Majmu’. Lebanon: Darul Ilmiyah. Juz 6. Page 245 (Lihat juga  كفاية الأخيار 1/ 197)

([vii])  Ibnu Qudamah. 2003. Al Mughny. Lebanon: Maktababah al Ilmiyah. Juz 4. Page 325. (Lihat juga dalam kitab وانظر مطالب أولي النهى 2 / 168)

([viii])  Imam Al Ghazaly. 2000. Al Wasith. Mesir: Darus Salamah. Juz 2. Page 419

([ix])  Ibnu Faris. 2006. Mu’jam Maqayisil Lughah. Saudi Arabia. Dar al Mamlakah as Sau’diyah. Juz 4. Page 340.

([x])  Al Qur’an. 2004. Surat al Baqarah ayat 187. Yogyakarta: UII Press. Page 50

([xi])  Imam Bukhory. 2001. Shohih al Bukhory. Lebanon: Darul Maktabah. Hadist ke -79 & 304

([xii]) Jevuska.com / pengertian infuse/ diakses pada 31/12/2009/ 14:12:25 GMT

([xiii]) Kamus.landak.com / arti infuse/ diakses pada 31/12/2009/ 14:14:27 GMT

([xiv])  Syaikh Muhammad Utsaimin. 2006. Majmuul Fatawa al Mu’ashiroh. Saudi Arabia: Darus Salam. Juz 19. Page 219

([xv])  Syaikh Abdul Aziz bin Baz. 2007. Majmuul Fatawa al Mu’ashiroh. Saudi Arabia: Darul Ilmi. Juz 15. Page 258

([xvi])  Loct. Cit. Juz 19. Page 220

([xvii])  Muhammad Basyir as Saqfah. 2004. Ahkamus Shiyam. Mesir: Darul Ulum. Page 76

([xviii])  Qararatul Majma al fiqhi. 2005. Majallatul Majmail Fiqhi. Saudi Arabia: Darul Mamlakah as Sau’diyah. Juz II. Page 464

([xix])  Loct. Cit. Juz 19. Page 221

([xx])  Imam as Subky. 2002. Ad Din al Kholish. Mesir: Darus Sunnah. Juz 8. Page 457

([xxi])  Syaikh Muhammad Syalthut. 2005. Al Fatawa. Saudi Arabia: Darul Ilmiyah. Page 136

([xxii])  Sayyid Sabiq. 2005. Fiqhus Sunnah. Lebanon: Darul Ilmiyah. Juz 3. Page 244

([xxiii])  Imam as Subky. 2002. Ad Din al Kholish. Mesir: Darus Sunnah. Juz 8. Page 457

([xxiv])  Qararatul Majma al fiqhi. 2005. Majallatul Majmail Fiqhi. Saudi Arabia: Darul Mamlakah as Sau’diyah. Juz II. Page 289

([xxv])  Syaikh Abdul Aziz bin Baz. 2007. Majmuul Fatawa al Mu’ashiroh. Saudi Arabia: Darul Ilmi. Juz 15. Page 257

([xxvi])  Syaikh Muhammad Utsaimin. 2006. Majmuul Fatawa al Mu’ashiroh. Saudi Arabia: Darus Salam. Juz 19. Page 220-221

([xxvii])  Imam as Subky. 2002. Ad Din al Kholish. Mesir: Darus Sunnah. Juz 8. Page 457

([xxviii])  Syaikh Muhammad Syalthut. 2005. Al Fatawa. Saudi Arabia: Darul Ilmiyah. Page 136

([xxix])  Fadhl Abbas. 2004. At Tibyan wal Ittikhaf Fi Ahkamis Shiyam Wal I’tikaf. Saudi Arabia: Darul Qiyam. Page 109

([xxx])  Yusuf al Qardhawi. 2003. Fiqhus Shiyam. Kairo: Maktabah Wahbah. Page 87

([xxxi])  Muhammad Basyir as Saqfah. 2004. Ahkamus Shiyam. Mesir: Darul Ulum. Page 76

([xxxii])  Qararatul Majma’ al Fiqhy. 2005. Majallatu Majmail Fiqhy. Saudi Arabia: Darul Mamlakah as Saudiyah: Juz II. Page 454

([xxxiii])  Syaikh Muhammad Utsaimin. 2006. Majmuul Fatawa al Mu’ashiroh. Saudi Arabia: Darus Salam. Juz 19. Page 220-221

([xxxiv])  Loc. Cit. Juz II. Page 385 & 399

([xxxv])  Loc. Cit. Juz II. Page 329 & 385

([xxxvi])  Syaikh Abdul Aziz bin Baz. 2007. Majmuul Fatawa al Mu’ashiroh. Saudi Arabia: Darul Ilmi. Juz 15. Page 261 ” إن وجد طعمها في حلقه ”

([xxxvii])  Syaikh Muhammad Utsaimin. 2006. Majmuul Fatawa al Mu’ashiroh. Saudi Arabia: Darus Salam. Juz 19. Page 206  ” إذا وصلت إلى المعدة ”

([xxxviii])  Qararatul Majma’ al Fiqhy. 2005. Majallatu Majmail Fiqhy. Saudi Arabia: Darul Mamlakah as Saudiyah: Juz II. Page 81

([xxxix])  Loc. Cit. Juz 19. Page 206

([xl])  Imam Muhammad Amin bin ‘Abidin Al Hanafi. 2004. Hasyiah Raddul Muhtar ‘ Ala Durril Mukhtar. Lebanon: Darul Maktabah al Ilmiyah. Juz II. Page 98

([xli])  Imam Az Zarqony. 1998. Syarkhuz Zarkony. Lebanon: Darul Ilmiyah. Juz I. Page 204. Cet III.

([xlii])  Imam Nawawi. 2002. Al Majmu’. Lebanon: Darul Ilmiyah. Juz 6. Page 314

([xliii])  Ibnu Taimiyah. 1999.  Syarkhul Umdah. Lebanon: Darus Salamah. Juz I. Page 387

([xliv])  Ibid. Juz II. Page 132

([xlv])  Jalaluddin Al Makhally. 1997. Al Makhally. Mesir: Dar Ibnu Umar. Juz 6. Page 203-204

([xlvi])  Imam Nawawi. 2002. Al Majmu’. Lebanon: Darul Ilmiyah. Juz 6. Page 315

([xlvii])  Mahmud Wahani al Bar’iy. 2005. Tasrikh wa Wadhoifu a’dhoil insan. Saudi Arabia: Darus Salam. Page 365 lihat juga ونقله د. محمد الألفي مجلة المجمع ع10ج2ص 84

([xlviii])  Syaikh Abdul Aziz bin Baz. 2007. Majmuul Fatawa al Mu’ashiroh. Saudi Arabia: Darul Ilmi. Juz 15. Page 260 ” إن وجد طعمها في حلقه ”

([xlix])  Syaikh Muhammad Utsaimin. 2006. Majmuul Fatawa al Mu’ashiroh. Saudi Arabia: Darus Salam. Juz 19. Page 206  ” إذا وصلت إلى المعدة ”

([l])  Fadhl Abbas. 2004. At Tibyan wal Ittikhaf Fi Ahkamis Shiyam Wal I’tikaf. Saudi Arabia: Darus Qiyam. Page 110

([li])  Yusuf al Qardhawi. 2001. Fiqhus Shiyam. Kairo: Darul Basyair al Islamiyah. Page 84

([lii])  Qararatul Majma’ al Fiqhy. 2005. Majallatu Majmail Fiqhy. Saudi Arabia: Darul Mamlakah as Saudiyah: Juz II. Page 378, 381, 385, 392

([liii])  Yusuf al qardhawi. 2003. As Shiyamu Fiqhihi wa asrarihi. Mesir: Darul Qolam. Page 101

([liv])  Muhammad Basyir as Saqfah. 2004. Ahkamus Shiyam. Mesir: Darul Ulum. Page 75

([lv])  Qararatul Majma’ al Fiqhy. 2005. Majallatu Majmail Fiqhy. Saudi Arabia: Darul Mamlakah as Saudiyah: Juz II. Page 329, 392

([lvi])  ibid.

([lvii])  Ibid. Page 35

([lviii])  Syaikh Muhammad Utsaimin. 2006. Majmuul Fatawa al Mu’ashiroh. Saudi Arabia: Darus Salam. Juz 19. Page 206  ” إذا وصلت إلى المعدة ”   & Syaikh Abdul Aziz bin Baz. 2007. Majmuul Fatawa al Mu’ashiroh. Saudi Arabia: Darul Ilmi. Juz 15. Page 261 ” إن وجد طعمها في حلقه ”

([lix])  Qararatul Majma’ al Fiqhy. 2005. Majallatu Majmail Fiqhy. Saudi Arabia: Darul Mamlakah as Saudiyah: Juz II. Page 39, 82

([lx])  Imam Nawawi. 2002. Al Majmu’. Lebanon: Darul Ilmiyah. Juz 6. Page 349 lihat juga المغني6/ 349

([lxi])  Ibnu Taimiyah. 1999.  Syarkhul Umdah Bab Khakiqatus Shiyam. Lebanon: Darus Salamah. Juz I. Page 67

([lxii]) Imam at Tirmidzy. 1999. Al Ilalul Kabir Lit Tirmidzy. Mesir: Darul Qolam. Hadist ke – (774), Ibnu Khuzaimah (1964), Ahmad (3/465), Ibnu Khibban (3535) & lihat kitab انظر الاستذكار 10/122

([lxiii])  Ibnu Rusyd. 1998. Bidayatul Mujtahid. Lebanon: Darul Ilmiyah. Juz I. Page 281. Lihat juga dalam kitab  الفتاوى الهندية 1/199 ، تبيين الحقائق 1/329 ، المجموع 6/ 349 ، المغني

([lxiv])  Imam Bukhory. 2001. Shohih al Bukhory. Lebanon: Darul Maktabah. Hadist ke –1939. Lihat juga dalam kitab  د (2372) ، ت (775) ، البيهقي 4/263

([lxv])  Imam Nasa’i. 1998. Al Qubra. Mesir: Darul qolam. Juz 3. Page 432 lihat juga dalam referensi lain yang sama,وابن خزيمة (1967) ، والدار قطني 2/182 ، والبيهقي 4/264

([lxvi])  ibid.

([lxvii])  Loc. Cit. Juz 4. Page 174

([lxviii])  Jalaluddin Al Makhally. 1997. Al Makhally. Mesir: Dar Ibnu Umar. Juz 6. Page 203-204

([lxix])  Syaikh Abdul Aziz bin Baz. 2007. Majmuul Fatawa al Mu’ashiroh. Saudi Arabia: Darul Ilmi. Juz 15. Page 275

([lxx])  Qararatul Majma’ al Fiqhy. 2005. Majallatu Majmail Fiqhy. Saudi Arabia: Darul Mamlakah as Saudiyah: Juz II. Page 378

([lxxi])  Loc. Cit

([lxxii])  Qararatul Majma’ al Fiqhy. 2005. Majallatu Majmail Fiqhy. Saudi Arabia: Darul Mamlakah as Saudiyah: Juz II. Page 390

([lxxiii])  Loc. Cit. Juz II. Page 390

([lxxiv])  Qararatul Majma’ al Fiqhy. 2005. Majallatu Majmail Fiqhy. Saudi Arabia: Darul Mamlakah as Saudiyah: Juz II. Page 98 & 240

([lxxv])  Imam Bukhory. 2001. Shohih al Bukhory. Lebanon: Darul Maktabah. Hadist ke –1904. Lihat juga dalam kitab Shahih Muslim Hadist ke-1511

([lxxvi])  Imam Nawawi. 2002. Al Majmu’. Lebanon: Darul Ilmiyah. Juz 6. Page 345 lihat juga dalam kitab lain والمغني 3/ 343 ، شرح الزرقاني على خليل 1/ 203

([lxxvii])  Tuhfah al Ahwadzi. 2004. Fatawa al Hindiyah. Inida: Dar as Syarifah. Juz I. page 197

([lxxviii])  Imam Az Zarqony. 1998. Syarkhuz Zarkony. Lebanon: Darul Ilmiyah. Juz I. Page 203. Cet III

([lxxix])  Ibnu Qudamah. 2003. Al Mughny. Lebanon: Maktababah al Ilmiyah. Juz 3. Page 343.

([lxxx])  Ibnu Taimiyah. 1999. Syarkhul Umdah Bab Khakiqatus Shiyam. Lebanon: Darus Salamah. Juz I. Page 47

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s