Pelaksanaan pendidikan yang justru “mematikan pendidikan”

Pada abad ke-21 yang penuh dengan tantangan maupun kesempatan baru ini,

marilah kita maju bersama agar bisa menjadi mitra yang sederajat dan

profesional (Yuniciro Koizumi dan Yutaka Limura).

Pendahuluan

Ungkapan diatas tentu bukan sekedar retorik dari seorang Yuniciro Koizumi atau ekspresi pribadi Yutaka Limura, namun demikian dimaknai sebagai cermin sikap masyarakat dan pemerintah Jepang terhadap negara-negara ASEAN pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Terkandung pula ungkapan PM Jepang dan Duta Besar Jepang untuk Indonesia tersebut akan perlunya memaknai sebuah persahabatan dalam bentuk aksi-aksi konkrit, bersinergi dan saling menguntungkan, baik dalam hubungan  pemerintah dengan pemerintsh, pemerintah dengan masyarakat atau masyarakat dengan masyarakat dari kedua negara (Indonesia-Jepang) di masa-masa yang akan datang.

Dari sedikit uraian diatas, tentu sangat dibutuhkan beberapa usaha dari kedua belah pihak untuk mengdakan kerja sama dalam berbagai bidang sebagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam hal ini salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah Indonesia adalah bagaimana negara ini bisa mengembangkan teknologi sehingga dalam perjalanannya bangsa Indonesia dapat berjalan seiring dengan negara jepang sebagai negara sahabat.

Namun masih terdapat satu pertanyaan besar yang masih mengganjal dalam benak kita untuk negara kita yang katanya sudah merdeka secara hakiki? Dan mampukah seorang pemuda atau remaja terpelajar yang katanya menjadi tulang punggung bangsa membawa negara ini menjadi negara yang mampu bersaing dikalangan dunia dalam berbagai bidang. Khususnya bidang teknologi yang menjadi andalan setiap negara?.

Sedikit refeleksi ini menjadikan salah satu hal yang paling penting bagi kita sebagai generasi muda yang berfikir dan terpelajar untuk tergugah dalam membangkitkan semangat nasionalisme negara ini. Sebagai seorang yang sudah dikenal sebagai tulang punggung bangsa, apakah kita sudah bangga dengan sandangan nama ini, padahal kita tidak pernah merefleksikannya dalam kehidupan kita?.

Uraian Masalah

Pendidikan sudah dipahami sebagai salah satu hak mendasar manusia oleh deklarasi umum mengenai HAM atau dalam konvensi internasional dan dalam UUD 1945 yang diamanatkan secara tegas pada pasal 31, bahwa i). Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan; ii). Setiap warga negara wajib mngikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; iii). Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN serta APBD guna memenuhi kebutuhan pendidikan nasional.Dilihat dari perspektif islam, ilmu dalam arti luas bertilik tolak dari pandangan al Qur’an bahwa:

Ilmu hanya bersal dari tuhan. “Bacalah……”,……..” dia yang mengajar manusia dengan perantaraan pena. (al Qur’an 96:1-5).

Dengan ilmu manusia berpotensi menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi “sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (al Qur’an 2:30).

Dengan ilmu manusia dapat mengenal tuhan. Dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi seraya berkata tuhan tidaklah engkau menciptakan ini dengan sia-sia. (al Qur’an 3:191).

Dengan demikian konsep ilmu dalam perspektif islam bukan semata-mata merupakan produk akal manusia, melainkan merupakan prinsip yang memiliki asal- usul ke Tuhan. Islam memandang ilmu sebagai kesatuan yang utuh yang bersifat holistik, pendekatan yang mengaitkan dunia nyata dengan konsep-konsep atau nilai-nilai spiritual.

Sejalan dengan pandangan itu pancasila sebagai ideologi negara dan bangsa indonesia sebagai tempat untuk meletakkan dasar ketuhanan YME sebagai sila pertamanya. Oleh karena itu, pendidikan di indonesia dipahami sebagai usaha untuk membangun sumber daya manusia seutuhnya (spiritual material), yang tidak memisahkan penguasaan ilmu pengetahuan dari nilai etika (yang diturunkan dari nilai-nilai absolut keagamaan).

Akan tetapi, pada kenyataanya kondisi pendidikan di indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Berdasarkan data yang disajikan oleh HDI (Human Development Index) tahun 2000, Indonesia menempati peringkat 109 dari 174 negara yang diambil profil pendidikannya oleh UNICEF. Ini berarti indonesia berada dalam Medium Human Development atau berada pada peringkat tengah dalam hal pengembangan sumber daya manusianya. Indikasi lain akan ketertinggalan bangsa Indonesia dapat pula diukur dari kriteria Technology Achievement Index yang membagi negara-negara dunia menjadi empat kelompok. Pertama, kelompok Technology Inovator Countries yang beranggotakan 18 negara, dimana negara Jepang, Amerika dan Eropa Barat sebagai anggotanya. Kedua,  Technology Implementor Countries yang mencakup kumpulan negara-negara yang meskipun baru mampu memproduksi barang atau inovasi tetapi sudah bisa menerapkan teknologi tinggi dalam segi-segi kegiatannya. Malaysia yang pada tahun 1970-an banyak megirim mahasiswanya untuk belajar di ITB masuk dalam kelompok ini. Sedangkan indonesia tergolong kedalam kelompok yang ketiga yakni Technology Adaptor Countries. Dimana Indonesia termasuk negara-negara yang baru bisa mengadopsi teknologi sedikit demi sedikit tapi belum sampai pada tahap implementasi luas. Ironisnya, Indonesia menduduki peringkat ke 60 dari 63 negara yang masuk dalam kelompok ini. Itu berarti bahwa tidak menutup kemungkinan Indonesia akan tergeser kedalam kelompok keempat yaitu Marginalized Countries.

Memaksimalkan hasil pendidikan dalam bidang IPTEK

Aspek yang dihadapi sisdiknas sekarang ini ialah dinamika dari kehidupan itu sendiri. Masyarakat akan terus berubah dan setiap perubahan akan membawa nilai-nilai baru. Ada yang sejalan dengan nilai-nilai sehingga berlaku, justru ada pula yang berlawanan. Apalagi kehidupan manusia dewasa ini telah mengglobal sehingga tak bisa terelakkan dari perubahan-perubahan dunia. Lihat saja misalnya bagaiman pengaruh kemajuan IPTEK dalam kehidupan manusia. (Thilaar, 2004:80).

Dinamika pendidikan dewasa ini menjadi salah satu masalah yang cukup menarik dan dipertanyakan keberadaannya dalam menunjang perkembangan negara ini. Banyak diantara peserta didik yang yang sudah menjalani proses pendidikan, namun belum banyak kita lihat kontribusi yang ditunjukkan. Bahkan prosentase pengangguran yang ada di negara Indonesia sekarang ini sebagai salah satu bukti sekaligus sebagai masalah bangsa dimana pendidikan di Indonesia kurang terserap dalam jiwa manusia sekarang.

Fenomena ini tidak terlepas dari sistem pengajaran yang diterapkan oleh pemerintah, terutama sistem pengajaran yang diterapkan pemerintah pada tingkatan SLTA yang bermacam-macam jurusan. Ada diantara mereka yang di MA, SMK, dan SMU. Adapun kaitannya pendidikan dengan kemajuan teknologi sekarang ini bisa diupayakan melalui pendidikan tingkat dasar sampai tingkat tinggi sebagai usaha awal dalam menigkatkan kualitas pengajaran dan IPTEK. Salah satu kebijakan yang dilakukan bangsa indonesia sekarang ini adalah pemberlakuan sistem pengajaran yang menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan seperti yang kita kenal dengan sebutan KTSP.

Apabila kita bandingkan dengan kurikulum 1994, sistem pengajaran dengan metode KTSP jauh lebih baik dibangdingkan dengan kurikulum 1994. Oleh karena itu, penulis beranggapan bahwa pemebelajaran dengan sistem KTSP akan membawa keuntungan dan manfaat yang luar biasa bagi pendidikan yang ada di negara kita.

Hal-hal yang seharusnya dilakukan guna mengantisipasi kematian pendidikan   

Ada beberapa kriteria yang seharusnya dilakukan oleh lembaga pendidikan dalam rangka meningkatkan hasil yang maksimal dalam bidang pendidikan yaitu mempunyai sifat optimistis dalam menghadapi persaingan serta dalam mengantisipasi pendidikan. Diantara kriteria-kriteria tersebut adalah sebagai berikut:

Objektifitas peserta didik harus diperhatikan

Hal ini merupakan salah satu faktor yang seharusnya dilakukan oleh sebuah lembaga pendidikan terhadap peserta didik yang dimiliki. Kalau kita perhatikan dengan teliti, objektifitas ini menjadi salah satu hal yang sangat mendukung perkembangan pola pikir peserta didik. Objektifitas yang seharusnya dilakukan oleh lembaga pendidikan, menjadikan peserta didik mampu berkreasi dalam segala hal. Sehingga peserta didik tidak terlalu menggantungkan hasil akhir yang diperoleh orang lain. Hal inilah yang penulis katakan sebagai objektifitas sebagai faktor yang mendukung dalam keberhasilan dunia pendidikan.

Kreatifitas siswa harus tetap dipertahankan, bahkan seharusnya didukung oleh lembaga pendidikan

Proses pendidikan tidak hanya berlaku didalam kelas dan lingkungan sekitar sekolah saja, namun proses pendidikan dalam menumbuhkan kebolehan peserta didik dapat dilakukan melalui jalan lain, misalnya dalam mengikuti lomba di luar yang berhubungan dengan proses pendidikan. Katakanlah misalnya lomba karya tulis ilmiah, essay ilmiah, mengarang dan sejenisnya. Peserta didik dilatih untuk belajar membuat satu penemuan baru, baik berupa inovasi dalam menghasilkan sesuatu ataupun menghasilkan konsep pemikiran yang baru.

Hal inilah yang seharusnya dilakukan oleh lembaga pendidikan dalam proses pendidikan karena sudah selayaknya lembaga pendidikan memberikan motivasi dan dorongan kepada peserta didik dalam berkreasi lebih jauh. Sebagaiman contohnya, terkadang seorang penulis dalam lomba karya tulis ilmiah memiliki karya dan pemikiran yang sangat bagus. Hal yang seharusnya dilakukan dalam sebuah pendidikan adalah bagaimana peserta didik dapat meningkatkan hasil karya pada waktu mendatang. Menurut pandangan penulis sangat tidak benar apabila dalam menyikapi hal yang seperti ini, lembaga pendidikan mengambil sikap dengan menampaikan ungkapan-ungkapan yang dapat menjegal peserta didik dalam berkarya.

Prasangka baik terhadap hasil kreasi siswa harus tetap diprioritaskan  

Berbaik sangka pada hasil kreasi peserta didik harus diprioritaskan oleh lembaga pendidikan. Dengan contoh diatas, maka seharusnya lembaga pendidikan melakukan hal terbaik dengan cara berbaik sangka terhadap hasil kreasi peserta didik. Karena hal ini sangat erat kaitannya dengan mental peserta didik. Akibat fatal yang dapat ditimbulkan apabila lembaga pendidikan selalu berprasangka buruk pada kreasi peserta didik adalah jiwa kreatifitas peserta didik akan terbunuh dengan hal-hal semacam ini.

Intisari uraian masalah

Pendidikan merupakan salah satu wadah yang strategis dalam meningkatkan kemampuan peserta didik yang juga sebagai generasi muda bangsa dalam berkreasi. Namun selama ini pendidikan di indonesia masih belum menunjukkan hasil yang maksimal dalam percaturan dunia. Oleh karena itu, eksistensi pendidikan di Indonesia hendaklah didukung dengan kebijakan-kebijakan lembaga pendidikan yang tidak mematikan pendidikan itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s