Problematika Pengembangan Perbankan Syariah yang Berorientasi pada Peningkatan Daya Saing guna Mendukung Pembangunan Ekonomi Bangsa dan Alternatif Pemecahannya

Muqaddimah

Ungkapan diatas tentu bukan sekedar retorika belaka dari seorang Yuniciro Koizumi atau ekspresi pribadi dari Yutaka Limura. Namun demikian dimaknai sebagai cermin sikap masyarakat dan pemerintah Jepang terhadap negara-negara ASEAN pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Terkandung pula ungkapan Perdana Menteri Jepang dan Duta Besar Jepang untuk Indonesia akan perlunya memaknai sebuah persahabatan dalam bentuk aksi-aksi konkrit, bersinergi dan saling menguntungkan, baik dalam hubungan pemerintah dengan pemerintah, pemerintah dengan masyarakat atau masyarakat dengan masyarakat dari kedua negara (Indonesia-Jepang) di masa-masa yang akan datang.

Dari sedikit uraian diatas, tentu sangat dibutuhkan beberapa usaha dari kedua belah pihak untuk mengadakan kerja sama dalam berbagai bidang sebagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam hal ini salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah Indonesia adalah bagaimana negara ini bisa mengembangkan perekonomian sehingga dalam perjalanannya bangsa Indonesia dapat berjalan seiring dengan negara jepang sebagai negara sahabat.

Namun masih terdapat satu pertanyaan besar yang masih mengganjal dalam benak kita untuk negara kita yang katanya sudah merdeka secara hakiki?. Dan mampukah seorang pemuda atau remaja terpelajar yang katanya menjadi tulang punggung bangsa membawa negara ini menjadi negara yang mampu bersaing dikalangan dunia dalam berbagai bidang. Khususnya bidang perekonomian yang menjadi tolak ukur kesejahteraan setiap negara?.

Sedikit refleksi ini menjadikan salah satu hal yang paling penting bagi kita sebagai generasi muda yang berfikir dan terpelajar untuk tergugah dalam membangkitkan semangat nasionalisme negara ini. Sebagai seorang yang sudah dikenal sebagai tulang punggung bangsa, apakah kita sudah bangga dengan sandangan nama ini, padahal kita tidak pernah merefleksikannya dalam kehidupan kita?.

Uraian masalah

Kemajuan dalam perekonomian menjadi salah satu hak mendasar setiap manusia. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan pembangunan nasional yaitu memajukan kesesejahteraan umum. Sejalan dengan pandangan itu pancasila sebagai ideologi negara dan bangsa indonesia sebagai tempat untuk meletakkan dasar menjawab dengan adanya sila kelima yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Oleh karena itu, kemajuan dalam bidang ekonomi di indonesia dipahami sebagai tata ukuran kesejahteraan warga negaranya.

Akan tetapi, pada kenyataanya kondisi perekonomian di indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Hal ini dibuktikan dengan adanya krisis multidimensional yang sedang melanda negara kita indonesia. Masalah ini menjadi momok yang menakutkan ketika bangsa ini berupaya untuk mengembangkan perekonomian sehingga kenyataan pahit selalu diterima bangsa ini. Disamping perekonomian yang tak berkembang, bangsa ini juga dipusingkan dengan tidak berkembangnya perbankan syariah yang menjadi salah satu aset terbesar perekonomian nasional bangsa ini. Padahal adanya perbankan syariah diharapkan menjadi solusi yang lebih baik dibandingkan bank konvensional.

Dinamika perekonomian ini menjadi salah satu masalah yang cukup menarik dan dipertanyakan keberadaannya dalam menunjang perkembangan negara ini. Banyak diantara masyarakat indonesia yang bergerak dibidang perekonomian, namun belum banyak kita lihat kontribusi yang ditunjukkan. Bahkan prosentase warga miskin yang ada di negara Indonesia sekarang ini menjadi satu bukti sekaligus sebagai masalah bangsa dimana perekonomian di Indonesia kurang berkembang dengan baik. Fenomena ini tidak terlepas dari sistem perekonomian yang diterapkan oleh pemerintah, terutama sistem perekonomian yang kurang membela masyarakat miskin.

Disamping kebijakan pemerintah yang kurang memihak pada rakyat miskin, dinamika yang unik juga sering muncul dimana dinamika perbankan syariah menjadi sorotan akhir-akhir ini. Seringkali diberitakan di media massa mengenai sejauhmana perkembangan perbankan syariah. Dari berbagai pemberitaan di media massa megenai perbankan syariah mengindikasikan perbankan syariah tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan karena munculnya beberapa kendala.

Sumber daya manusia yang kurang memadai

Terlalu banyaknya perbankan syariah yang ada di indonesia dan tidak diimbangi dengan sumber daya manusia yang memadai membuat perbankan syariah sulit untuk berkembang. Terutama sumber daya manusia yang memiliki latar belakang disiplin keilmuan bidang perbankan syariah. Rata-rata sumber daya manusia di perbankan syariah saat ini hanyalah sumber daya manusia yang berlatar belakang disiplin ilmu konvensional yang pernah bekerja di bank konvensional yang membuka islamic windows. Keadaan ini mengakibatkan akselerasi hukum islam dalam praktek perbankan syariah kurang cepat dapat diakomodasikan dalam sistem perbankan, sehingga kemampuan pengembangan perbankan syariah menjadi terhambat.

Belum terpenuhinya peraturan pemerintah yang memadai mengenai perbankan syariah

Fakta ini tak terbantahkan lagi kebenarannya karena sampai sekarang undang-undang mengenai perbankan syariah belum memadai dan belum jelas. Walaupun setelah masa krisis muncul wacana guna membahas undang-undang perbankan syariah dan lembaga keuangan syariah ternyata hal itu tak cukup berpengaruh terhadap perkembangan perbankan syariah. Namun setidaknya sudah ada upaya untuk mengarah kesana walaupun upaya untuk merealisasikan UU yang lebih komprehensif belum begitu memadai. Oleh karena itu, undang-undang sementara setidaknya diharapkan mampu menginterpretasikan perkembangan perbankan syariah di masa depan dimana masa perkembangan perbankan syariah membutuhkan perbaikan secara bertahap.

Kurangnya akademisi perbankan syariah

Patut dipahami bahwa kurangnya akademisi perbankan syariah membuat kases perbankan syariah terganggu. Lingkungan akademisi menjadi salah satu penyebabnya, dimana lingkungan akademisi sekarang ini lebih memperkenalkan kajian-kajian perbankan yang berbasis pada disiplin ilmu ekonomi konvensional dibandingkan kajian-kajian perbankan syariah. Kondisi ini lebih disebabkan kondisi pendidikan kita yang lebih familiar dengan literatur-literatur ekonomi konvensional dibandingkan literatur islam atau syariah. Sehingga kajian mengenai keberadaan perbankan syariah dan keuangan syariah kurang mendapatkan perhatian. Dampaknya keberadaan perbankan syariah kurang mendapat legitimasi secara ilmiah di masayarakat.

Kurangnya sosialisasi

Kurangnya sosialisasi kepada masyarakat mengenai keberadaan perbankan syariah mengakibatkan banyaknya masyarakat indonesia yang tidak mengenal dan memahami perbankan syariah. Keadaan ini memaksa semua yang berkepentingan dalam perbakan syariah melakukan sosialisasi yang kuat dan tidak sekedar memperkenalkan keberadaan bank syariah di suatu tempat saja melainkan juga memperkenalkan mekanisme, produk perbankan syariah dan instrumen-instrumen keuangan syariah kepada masyarakat supaya mereka mengetahui secara dalam mengenai perbankan syariah.

Munculnya berbagai kendala diatas merupakan problematika serius yang perlu ditanggapi dan dicarikan solusi terbaik supaya masalah perbankan syariah dapat teratasi.

Hal-hal yang seharusnya dilakukan guna mengembangkan Perbankan Syariah

Ada beberapa hal yang seharusnya dilakukan dalam rangka memacu perkembangan perbankan syariah dimana perbankan syariah nantinya mempunyai sifat optimistis dalam menghadapi persaingan serta dalam mengantisipasi berbagai masalah yang sering muncul kepermukaan.

Peningkatan kualitas sumber daya insani dibidang perbankan syariah

Peningkatan kualitas sumber daya insani menjadi elemen penting yang sangat diperlukan untuk memicu pengembangan bank syariah. Hal ini dapat diimplementasikan dengan mengupayaan usaha yang berguna untuk mengembangkan sistem pendidikan dengan cara mengintegrasikan teori dan praktek perbankan syariah. Wacana ini sangat diperlukan perbankan syariah masa kini karena perbankan syariah sekarang ini berada ditengah-tengah masyarakat akademik dan non akademik yang berorientasi pada integrasi peningkatan perbankan syariah.

Adanya upaya yang progresif

Harapan akan adanya upaya yang progresif untuk mengembangkan perbankan syariah bukan saja dari praktisi dan ulama melainkan dari semua elemen yang berkeentingan guna mendorong pemenuhan legalitas instrumen syariah sehingga memberi ruang yang lebih lebar mengenai tumbuhnya perbankan syariah. Pengembangan legalisasi perbankan syariah dipengarui oleh permasalahan-permasalahan yang muncul dalam perbankan syariah. Tetapi satu catatan yang harus diingat adalah usaha yang dilakukan untuk membangun aspek legalisasi harus didahului dengan sebuah langkah untuk mensosialisasikan sistem perbankan syariah.

Perlunya dukungan akademisi dalam peningkatan kualitas perbankan syariah

Keterlibatan para akademisi untuk membangun konstruksi lembaga keuangan perbankan syariah harus lebih masuk akal dan dapat diterima oleh banyak pihak. Hal ini bertujuan supaya para pelanggan merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan oleh perbankan syariah. Oleh karena itu, hubungan antara praktisi dan akademisi perbankan syariah tidak bisa dipisahkan dalam kaitannya meningkatkan peran perbankan syariah dikancah perbankan nasional dengan cara membentuk sistem-sistem ekonomi yang berpihak pada masyarakat bukan sistem-sistem ekonomi yang sepihak.

Sosialisasi yang lebih agresif

Sosialisasi ini dapat dilakukan dengan cara memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi bank konvensional untuk membuka kantor cabang syariah (KCS) atau semua pihak yang mampu secara legalitas maupun materi untuk mendirikan bank umum syariah diseluruh pelosok negeri. Selain sebagai sarana untuk mensosialisasikan perbankan syariah langkah ini juga diperlukan untuk mengurangi perilaku ekonomi masyarakat yang mengandung riba dan gharar dikalangan perbankan konvensioanal.

Optimalisasi pasar modal syariah

Optimalisasi merupakan langkah nyata yang harus ditempuh dalam upaya pengembangan perbankan syariah. Dalam rangka merealisasikan optimalisasi pasar modal syariah setidaknya sampai saat ini pasar modal syariah telah memliki beberapa saham. Misalnya masuknya saham Jakarta Islamic Index. Selain itu, sekitar 170 sampai 200 saham di bursa efek jakarta yang sangat berpotensi di transaksikan dalam pasar modal syariah, tetapi hal ini perlu dibahas dengan Majelis Ulama Indonesia dan Dewan Syariah Nasional supaya mendapatkan sertifikat halal, kata direktur BEJ, Erry Firmansyah.

Keberadaan pasar modal syariah diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan pasar modal indonesia. Pasalnya, pasar modal syariah memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang mengingat negara indonesia mayoritas beragama islam. Selama ini banyak dari kalangan muslim yang menentang pasar modal syariah karena dianggap bertentangan dengan prinsip islam. Padahal yang diharapkan dengan adanya pasar modal syariah adalah lancarnya perkembangan perbankan syariah sehingga peran peran perbankan syariah dalam perkembengan perekonomian bangsa dapat terealisasi. Tetapi hal itu berbanding terbalik karena sebagian kalangan islam banyak yang menentang pasar modal syariah. Sehingga pasar modal syariah khususnya dan perbankan syariah umumnya tak bisa berjalan dengan optimal.

Bangsa ini seharusnya malu dengan negara-negara maju, dimana para pebisnis justru tertarik untuk mengembangkan instrumen pasar modal yang berbasis syariah. Padahal status mereka adalah negara non muslim. Realita ini terjadi di negara super power yaitu Amerika Serikat yang sudah mengembangkan Dow Jones Islamic Index. Oleh karena itu, guna mengejar ketertinggalan tersebut perlu dibangun pasar modal syariah yang kuat dengan cara optimalisasi pasar modal syariah yang berpatokan pada tiga hal penting yaitu regulatory framework, institusional building, dan product development.

Tetapi dalam proses optimalisasi pasar modal syariah, banyak sekali kendala yang dihadapi. Selain masalah belum berjalannya peraturan pasar modal syariah dengan sepenuhnya, optimalisasi juga terhambat karena kurangnya apresiasi masyarakat dan kurangnya pengetahuan serta pemahaman masyarakat mengenai pasar modal syariah yang berpegangan pada prinsip syariah.

Pola pikir yang terbangun saat ini hanyalah pernyataan bahwa perbankan syariah hanya terkait untuk umat islam. Padahal prinsip itu terbuka untuk umum dan bisa digunakan oleh semua pihak. Misalnya saja Amerika Serikat dan inggris. Kita tahu bahwa keduanya merupakan negara non muslim tetapi perkembangan pasar modal syariahnya merupakan salah satu yang paling pesat di dunia sehingga perbankan syariah berkembang pesat disana.

Kendala lain tidak optimalnya pasar modal syariah adalah minimnya informasi tentang pasar modal syariah, pola kelembagaan dalam rangka pengawasan masih dianggap sebagai disisentif oleh para pelaku. Oleh karena itu, Bapepam mengambil langkah yang tepat untuk mengatasi kendala tersebut dengan menetapkan pengembangan pasar modal syariah sebagai master plan modal indonesia 2005-2009.

Aturan pasar modal syariah harus jelas

Aturan merupakan sebuah pedoman yang harus dipatuhi supaya segala sesuatunya berjalan dengan teratur dan sesuai dengan yang diiginkan. Hal inilah yang seharusya dilakukan oleh lembaga-lembaga perekonomian yang ada di indonesia guna menentukan arah tujuan yang tepat dan jelas. Gagasan ini senada dengan apa yang dilakukan oleh badan pengawas pasar modal (Bapepam) yang melihat besarnya potensi pasar modal syariah di indonesia.

Sampai saat ini peraturan yang bisa mengakomodasi penerapan prinsip syariah di pasar modal Indonesia belum berjalan dengan sepenuhnya. Masalah inilah yang menjadi kendala kenapa pasar modal negara kita masih tertinggal dengan pasar modal syariah di negara lain. Oleh karena itu, Bapepam perlu membahas lagi hukum-hukum mengenai aturan pasar modal syariah.

Pada dasrnya aturan menyeluruh yang komprehensif mengenai pasar modal syariah menjadi aturan wajib supaya aturan tersebut dapat direalisasikan dengan baik. Karena disisi lain, aturan yang seperti itu akan sangat berguna bagi pengembangan pasar modal syariah dan perbankan syariah. Dalam hal ini badan pengawas pasar modal (Bapepam) juga harus memahami karakteristik pasar modal syariah agar regulasinya mampu mencakup unsur-unsur syariah. Selain itu, mekanisme pengawasan juga penting karena akan menjaga kredibilitas efek itu sendiri. Oleh karena itu, Badan pengawas pasar modal harus sering konfirmasi pada Dewan Syariah Nasional mengenai masalah-masalah pasar modal syariah.

Jika dilihat dari segi manfaatnya pasar modal syariah akan menambah sarana berinvestasi di pasar modal. Tetapi kembali lagi, satu kenyataan pahit yang dihadapi perbankan syariah saat ini adalah banyaknya kaum muslim yang cenderung menjauhinya karena perbankan syariah dianggap belum sesuai dengan aturan syariat islam yang ada. Padahal harapan yang diinginkan dengan adanya pasar modal syariah adalah apresiasi masyarakat menjadi lebih baik terhadap perbankan syariah tetapi kenyataannya berbanding terbalik.

Membuat terobosan baru

Terobosan baru merupakan langkah paling tepat dalam rangka mengembangkan perbankan syariah mengingat persaingan global yang semakin ketat. Salah satu terobosan yang dapat dilakukan adalah dengan membuat kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada pencapaian target kuantitatif dan mengembangkan program-program yang bersifat inisiatif. Hal ini sejalan dengan apa yang dipikirkan dan apa yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam rangka memacu pengembangan perbankan syariah yang ada di indonesia. Bahkan Bank Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan atau mendorong kontribusi perbankan syariah mencapai 5 persen pada 2008. Bukti kepedulian Bank Indonesia ini diwujudkan dengan adanya program akselerasi pengembangan perbankan syariah atau yang lebih kita kenal dengan sebutan PAPBS.

Dalam hal ini pengawas kantor Utama BI surabaya Wiyoto mengakui bahwa perkembangan perbankan syariah khususnya di wilayah Indonesia timur belum berkembang misalnya di daerah NTT dan NTB. Terlebih lagi Irian Jaya. Oleh karena itu,  guna mencapai pencapaian yang optimal, pemerintah khususnya Bank Indonesia harus mendorong berkembangnya perbankan syariah di daerah timur, katanya saat pelatihan wartawan ekonomi di Denpasar. Sabtu (17/11) lalu.

Disisi lain, Wiyoto juga mengatakan Bank Indonesia akan terus menyiapkan berbagi terobosan dengan mengeluarkan berbagai paket kebijakan dan program inisiatif. Harapan dia, paket ini dapat membawa pertumbuhan aset perbankan syariah secara signifikan dalam waktu dekat. Selain itu Wiyoto juga menambahkan bahwa pengembangan perbankan syariah jangka panjang harus memiliki sasaran yang tepat dimana mendorong supply dan demand secara seimbang sebagai sasaran utamanya. Disisi lain langkah konkrit yang harus dilakukan adalah memperkuat modal, manajemen dan sumber daya insani bank syariah serta mengoptimalkan pemerintah khususnya BI dalam berperan sebagai penggerak pertumbuhan perekonomian bangsa.

Realita mengenai pertumbuhan Perbankan Syariah semakin hari semakin meningkat. Tetapi usaha dan harapan yang konkrit harus digalakkan, jangan sampai terlena dengan keadaan dan jangan mudah puas dengan apa yang dihasilkan.  Berdasarkan fakta yang ada, proyeksi pertumbuhan nasional program akselerasi pada Desember 2007, Perbankan Syariah ditargetkan mencapai market share 2,84 persen. Sedangkan total aset diperkirakan mencapai Rp 47,94 triliun, dana pihak ketiga Rp 36,10 triliun, dan pembiayaan mencapai Rp 38,39 triliun. Sedangkan pada Desember 2008 market share Perbankan Syariah diharapkan mencapai 5,25 persen. Sedangkan asetnya mencapai Rp 91,57 triliun, dana pihak ketiga Rp 73,33 triliun, dan pembiayaan Rp 68,95 triliun.

Secara logis, jika pengembangan Perbankan Syariah tanpa adanya pengembangan akselerasi Perbankan Syariah akan mengalami perkembangan yang cenderung biasa saja. Sehingga perkiraan perkembangannya hanya mencapai 1,97 persen dan pada desember 2008 diperkirakan hanya menjadi 2,51 persen. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan yang ketat guna mencapai target 5 persen pada desember 2008, katanya. Hal ini membuktikan berbagai terobosan baru dengan pengembangan akselerasi program perbankan syariah membawa dampak yang baik serta mendorong pertumbuhan volume usaha secara maksimal.

Intisari uraian masalah

Perekonomian merupakan salah satu wadah yang strategis dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat indonesia yang menjadi tolak ukur kemajuan sebuah bangsa. Namun selama ini perekonomian di indonesia masih belum menunjukkan hasil yang maksimal dalam percaturan perekonomian dunia khususnya masalah perbankan syariah. Kalau kita melihat ke Inggris atau Ameruika Serikat yang notabenya sebagai negara non muslim, seharusnya negara ini malu karena telah jauh tertinggal dibandingkan mereka dalam masalah pengembangan perbankan syariah khususnya pasar modal syariah. Padahal kita merupakan negara besar yang berpenduduk muslim terbesar. Oleh karena itu, eksistensi perekonomian di Indonesia khususnya mengenai masalah pengembangan perbankan syariah hendaklah didukung dengan kebijakan-kebijakan lembaga perekonomian pemerintah yang tidak mematikan kreatifitas. Terlebih lagi apabila kebijakan itu merugikan perbankan syariah itu sendiri. Disamping ditunjang dengan berbagai cara yang progresif dalam usaha pengembangan perbankan syariah sehingga perbankan syariah mempunyai peran besar dalam memajukan perekonomian bangsa.

Semoga ini menjadi awal bukti bahwa Syariat Islam merupakan solusi yang nyata dan bukannya lips service para oportunis penyelenggara bisnis riba yang hanya menggunakan sebagain ayat ayat Allah dan meninggalkan sebagain ayat Allah yang lainnya demi keuntungan dunia yang sementara ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s